Aktualisasi Konsep Diri

AKTUALISASI (Pengembangan Kemampuan) untuk KONSEP DIRI
oleh: Aselina Endang Trihastuti, MBA

1. KONSEP DIRI menentukan kualitas KOMUNIKASI INTERPERSONAL:

Setiap orang harus memiliki Konsep Diri, dengan demikian bisa mempersepsikan dirinya sendiri yang menyangkut keadaan phisik, social dan psikologis (William D. Brooks) yang didapat dari pengalaman dan interaksinya dengan orang lain. Jadi jangan hanya bisa mempersepsikan orang lain namun juga bisa menggambarkan siapa diri kita.

Menurut Charles Horton Cooley ibarat orang sedang berkaca (looking glass self) bisa melihat/ mendeskripsi diri kita sebagaimana orang lain melihat kita. Selanjutnya bisa menguraikannya sebagaimana ketika menulis Curriculum Vitae (CV).

Konsep Diri tsb dapat bersumber dari Self-Esteem (Harga Diri) dan Social Evaluation (Penilaian Sosial).

Self-esteem (harga diri) merujuk pada tingginya estimasi individu atas nilai, kemampuan dan kepercayaan yang dimilikinya.

Orang yang self-esteem nya tinggi memiliki Sikap Positif dan memiliki kualitas diri baik yang mempengaruhi pada perilaku komunikasi. Orang tsb akan lebih fleksibel ketika menanggapi situasi sulit karena mampu menerima diri sendiri apa adanya. Tidak seperti orang yang memiliki Self-esteem rendah.

Social Evaluation (Penilaian Social) merupakan penilaian yang didapat dari orang lain.

Proses evaluasi social nya bisa berupa Reflected Appraisal yaitu menyimpulkan pendapat orang lain dan memakainya sebagai pendapat diri sendiri. Misalnya orang lain mengatakan saya selalu berpakaian rapi, kemudian saya katakan saya suka berpakaian rapi.

Selain itu Proses Evaluasi Sosial bisa juga berupa Direct Feedback (umpan balik langsung) yang amat penting untuk pengembangan kemampuan /aktualisasi diri

Dalam Konsep Diri terkandung harapan atas keyakinan dan sikap. Oleh sebab itu ada Teori Social Comparison yang fokusnya bagaimana perbandingan dengan orang lain dalam mempengaruhi kita dan Teori Self-Perception (teori persepsi diri) yang menguji hubungan antara tindakan dan pemahaman terhadap sikap dan tujuan kita.

Secara keseluruhan Konsep Diri sangat menentukan dalam komunikasi interpersonal karena sedapat mungkin orang bertingkah laku sesuai konsep dirinya atau ‘nubuat yang dipenuhi sendiri’ (Rahmat :2003). Kita hidup sesuai dengan ‘label’ diri kita yang dapat mempengaruhi perilaku dan erat dalam melakukan komunikasi dengan orang lain (interpersonal).

Dalam Konsep Diri ada dua kualitas yaitu Konsep Diri Positif dan Konsep Diri Negatif.

KONSEP DIRI POSITIF: melahirkan pola perilaku komunikasi interpersonal yang positif pula.
Menurut Brook dan Emmert (dalam Rahmat, 2003) cirinya:
1. Yakin mampu mengatasi masalah
2. Merasa setara dengan orang lain
3. Menerima pujian tanpa rasa malu
4. Menyadari tiap orang mempunya berbagai perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak semuanya disetujui masyarakat
5. Mampu memperabaiki dirinya karena sanggup mengungkapkan kepribadian yang tidak disenangi dan berusaha mengubah

Sedangkan Hamachek (dalam Rahmat, 2003) menyebutkan ada 11 karakter orang yang memiliki Konsep Diri Positif:
1. Mampu mempertahankan nilai-nilai dan prinsip meski menhadapi pendapat yang kuat dan tangguh mengubah prinsip bila terbukti salah
2. Mampu bertindak berdasarkan penilaian yang baik tanpa menyesali tindakan keputusannya walau orang lain tidak menyetujuinya
3. Tidak membuang waktu untuk mencemaskan apa yang akan terjadi besok, apa yang terjadi dimasa lalu dan apa yang terjadi sekarang
4. Yakin dapat mengatasi persoalan bahkan ketika sedang mengalami kegagalan atau kemunduran
5. Merasa sama dengan orang lain, sanggup menerima perbedaan baik kemampuan, latar belakang
6. Sanggup menerima dirinya sebagai orang penting dan bernilai (bermanfaat) untuk orang lain paling tidak bagi sahabat
7. Menerima pujian tanpa pura-pura rendah hati dan menerima penghargaan tanpa rasa bersalah
8. Cenderung menolak orang lain yang ingin mendominasinya
9. Sanggup mengakui bahwa mampu merasakan dorongan dan keinginan dari perasaan marah hingga cinta, sedih hingga bahagia, amat kecewa sampai amat puas
10. Menikmati diri secara utuh baik pekerjaan, permainan, ungkapan diri yang kreatif, persahabatan atau sekedar mengisi waktu (killing time)
11. Peka pada kebutuhan orang lain, pada kebiasaan social dan gagasan tidak dapat bersenang-senang dengan mengorbankan orang lain

KONSEP DIRI NEGATIF: sebaliknya dalam konsep diri negative memiliki ciri-ciri:
1. Peka terhadap kritik, koreksi dari orang lain dianggap menjatuhkan dirinya
2. Sangat responsive dan antusias terhadap pujian. Baginya segala hal yang menunjang harga diri akan menjadi perhatiannya
3. Hiperkritis terhadap orang lain. Ingin dipuji tapi tidak mau memuji, selalu mengeluh, mencela atau meremehkan
4. Merasa tidak disukai orang lain, merasa tidak diperhatikan, mempersalahkan dirinya sendiri dan menganggap dirinya sebagai korban dari system social yang tidak beres. Menganggap orang lain sebagai musuh.

Mengetahui betapa eratnya Konsep Diri pada perilaku etis maka jelas sekali bahwa kualitas Konsep Diri merupakan bagian dari Etika dalam mempengaruhi keberhasilan Komunikasi Interpersonal seseorang.

2. MODEL JOHARI WINDOW
a) Penjelasan detil mengenai model Johari Window.
Joseph Luft dan Harry Ingham (1984) membuat gambaran / model yang menjelaskan bagaimana kaitan dengan Self Awareness (Kesadaran Diri).

SELF AWARENESS adalah kesadaran diri yang membantu mengetahui siapa kita dan apa yang kita inginkan. Seseorang yang memberikan perhatian secara focus pada diri sendiri, perasaan, maksud dan/atau evaluasi dari orang lain. Ini semua membantu kita untuk tahu kekurangan dan kelebihan serta menyadari perilaku yang dikendalikan oleh pikiran.

Gambar yang dikenal dengan Johari Window untuk menjelaskan bahwa diri seseorang terbagi atas empat jendela (quadrant) yang berbeda-beda.

1. OPEN SELF (daerah terbuka): Menyajikan informasi (tentang agama, jenis kelamin, ras, warna kulit, nama, hobi status social dll), perilaku, sifat, perasaan, keinginan, motif dan ide yang diketahui diri sendiri dan orang lain
2. BLIND SELF (daerah buta): menyajikan informasi yang diketahui orang lain tapi tidak diketahui oleh diri sendiri. Misalnya: kita dikenal suka ‘pamer’ tapi kita tidak tahu. Mempersempit daerah buta berakibat memperluas daerah terbuka berarti meningkatkan self-awareness atau meningkatkan kualitas komunikasi interpersonal
3. HIDDEN SELF (daerahTersembunyi): bagian ini berisi tentang hal-hal ‘rahasia’ yang hanya diketahui diri sendiri dan tidak diketahui orang lain misalnya kondisi keuangan, rumah tangga, kecemasan, rasa takut rahasia sukses dan lain-lain
4. UNKNOWN SELF (daerah tak dikenal): merupakan aspek diri yang tidak diketahui diri sendiri maupun orang lain. Meski sulit diketahui tapi ini ada dalam diri kita

Makin tinggi kesadaran mengenal diri sendiri (self-awareness) maka semakin tahu bagaimana berkomunikasi dengan orang lain, yang tentunya sangat membantu meningkatkan pengetahuan dan memenuhi kebutuhan hidup kita.
Ada lima CARA meningkat self-awareness:
1. Berbicaralah dengan diri sendiri (self talk) untuk mengetahui siapa kita
2. Mendengarkan orang lain. Feedback dari orang lain penting untuk meningkatkan pengetahuan (self knowledge)
3. Aktif mencari informasi tentang diri kita untuk memperkecil ruang blind self (daerah buta) dan meningkat self awareness
4. Melihat diri dari sisi yang lain atau dari sudut pandang orang lain utnuk menambah kesadaran diri
5. Meningkatkan open self atau membuka diri (self disclosure) yang berarti memperkecil hidden self

Self awareness bisa naik dan bisa menurun, situasi ini mengakibatkan kita bisa bertindak tanpa mengindahkan standar atau tidak sesuai dengan nilai-nilai diri kita. Penurunan self awareness disebut deindividuation (berkurangnya nilai individu seseorang) dapat terjadi akibat stimuli tertentu atau melakukan tindakan yang tidak dilakukan ketika sendirian atau dalam suasana tenang

b) DAMPAK JENDELA-JENDELA YANG LEBIH TERBUKA/BESAR
Jendela-1 lebih terbuka:
Jendela-1 (Open Self) mencerminkan orang yang memiliki self-awareness tinggi, dia mengetahui apa yang diketahui diri sendiri dan orang lain. Orang ini tahu persis perilaku diri sendiri dan orang lain maka dari itu jika jendela-1 lebih terbuka maka kualitas komunikasi interpersonal akan lebih baik

Jendela -2 lebih terbuka
Membesarnya daerah buta (Blind Self) berakibat mempersempit wilayah Open Self (daerah terbuka) berarti menurunnya self-awareness atau turunnya kualitas komunikasi interpersonal

Jendela -3 lebih terbuka
Jendela-3 (Hidden Self) adalah berisi tentang hal-hal ‘rahasia’ yang hanya diketahui diri sendiri dan tidak diketahui orang lain. Jika terbuka semakin lebar maka semakin banyak rahasia disimpan dan berakibat mempersempit wilayah hidden self (wilayah yang tidak diketahui)

Jendela -4 lebih terbuka
Membesarnya jendela-4 (Unknown Self) akan mempersempit daerah tersembunyi (Hidden Self) lebih sedikit menyimpan “rahasia” namun cenderung semakin tidak tahu akan dirinya dan orang tidak mengenalnya

c) KONDISI IDEAL dari ke 4 jendela
Seperti dalam model Johan Window gambarkan, setiap ‘daerah’ berukuran sama berarti setiap orang diharapkan mengkontrol setiap daerah (jendela) dirinya supaya memiliki keseimbangan diri.

Daerah terbuka (open self) harus dibesarkan agar bisa lebih terbuka dan berkomunikasi dengan orang lain semakin baik, banyak memberi dan menerima informasi serta berpengetahuan luas sehingga dapat mengendalikan orang lain. Usahakan mempersempit Blind Self agar lebih mengenal diri sendiri daripada orang lain lain yang lebih tahu siapa kita.

Begitu juga dengan Hidden Self (daerah tersembunyi) diupayakan lebih besar supaya wilayah Unknown Self pun menjadi sempit. Masih beruntung bisa menyimpan rahasia daripada tidak tau mesti berbuat apa karena memang tidak tau akan dirinya dan juga tidak dikenal oleh orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *