Etika dan Evolusi Kesadaran dalam Komunikasi Antar Pribadi

DAFTAR LITERATUR
Ethic in Public Relations – Patricia Parsons, 2008
Komunikasi Antar Pribadi – Yosal Iriantara
Etika & Filsafat Komunikasi – Moh. Mufid, 2009

ETIKA
• Pengertian ETIKA
• Menurut William Benton (Encyclopedia Britanic, 1972) berasal dari Bahasa Yunani Ethos yg berarti karakter. Adalah studi yang sistematis dari konsep-konsep nilai baik-buruk, haus, benar-salah, susila atau tidak susila yang membenarkan kita dalam penerapannya dalam segala hal disebut Filsafat Moral.
• Etika sering diartikan = Moral yang dikaji -> obyek perbuatan
• Kesamaan: menurut Frans Magnis Suseno
• Etika Dasar: sistim pengkajian -> Akhlaq yang memerlukan pemikiran kritis, berupa ilmu dan bukan ajaran (bisa diikuti atau ditolak)
• Moral: sumbernya adalah tradisi/adat istiadat, ideologi, agama

ETIKA KOMUNIKASI
Etika komunikasi mencoba mengelaborasi standard etis yang dipergunakan komunikator (humas) dan komunikan (khalayak). Komunikasi menyentuh aspek ilmu dan berbagai macam bidang kehidupan.

Ada 7 perspektif Etika Komunikasi yang harus dipertimbangkan seorang Humas

1. Perspektif Politik, etika yang dipakai untuk mengembangkan kebiasaan ilmiah dalam berkomunikasi, menumbuhkan sikap adil atas dasar kebebasan, mengutamakan motivasi dan menanamkan rasa menghaargai atas perbedaan

2. Perspektif Sifat Manusia, yaitu kemampuan berpikir dalam bertindak atau berpedoman pada rasionalitas dan memahami simbol (NV) untuk mendukung

3. Perspektif Dialogis, proses transaksi dialog dua arah, mengutamakan kualitas, keterbukaan, kejujuran, kerukaunan, intensitas

4. Pespektif Situasional, faktor situasional adalah relevansi penilaian moral yang memperhatiakan Peran dan Fungsi komunikaator, standar khalayak, derajad kesadaran, tingkat urgensi, tujuan dan nilai untuk komunikasi etis

5. Pespektif Religius, penggunaan kitab suci dipakai sebagai standard pedoman dalam mengevaluasi nilai diri

6. Perspektif Utilitarian, Cara dan Tujuan komunikasi dilihat darai kegunaan, kesenangan/kegembiraan

7. Perspektif Legal, memahami aturan yang berlaku sebagai Perilaku Etis

DIMENSI NILAI
• Sebagai makhluk social manusia terikat dengan norma yang berlaku dalam masyarakt. Dimensi nilai khususnya etika seperti kesantunan, budi pekerti yang baik, ketulusan menjadi salah satu factor menilai seseorang.

• Tujuan pendidikan universal salah satunya adalah membangun manusia ber etika untuk membangun hubungan dengan sesamanya.

• Dalam konteks evolusi kesadaran, makin baik etika dan relasi social seseorang tidak cukup hanya untuk dirinya tetapi diperlukan menjadi individu kreatif mendorong komunitas menjadi ko-kreatif

• Permasalahan yang ada sekarang adalah makin lunturnya Etika Pergaulan Sosial terutama frekuensi tatap muka untuk dialog sedangkan KAP merupakan wujud dari pergaulan social yang membutuhkan etika. Menurut Huijbers (1986:46) fungsi dialog adalah menyatakan menyatakan pendirian dan mengemukakan satu persoalan sehingga kemungkinan besar akan berhadapan dengan pilihan etis. Jadi lunturnya berdialog berarti mengikisnya Etika Pergaulan.

• Kemajuan teknologi komunikasi melahirkan tantangan baru. Misal: chatting yang belum tentu memakai nama aseli, informasinya pun hoax. Kebohongan sudah bukan merupakan hal biasa dalam medsos.

A. KONSEP HIDUP YANG BAIK
Seorang Humas hampir semua peristiwa kehidupannya memiliki konsekuensi etis. Kadang tidak sengaja berbuat yang tidak disadari melukai hati orang lain. Contoh: Seorang humas dalam program pengajian ibu-ibu duduk santai merokok, berpakaian tidak syar’i.

• Tidak ada yang salah, karena tidak ada tulisan ‘Dilarang Merokok’ di mesjid itu. Namun ketika bicara etika tentu perosalannya adalah pada nilai diri untuk berpakaian yang tertutup dan mampu menahan diri.

• Apa yang dilakukan humas tsb memperlihatkan komunikasi non-verbal yang tidak pas dari sisi ruang dan waktu sebagai bagian dari ‘jembatan’ yang menghubungkan manusia yang satu dengan yang lain

• Humas butuh menjaga citra diri dan organisasi dengan beretika dan etiket maka akan mendukung kelangsungan organisasi, disukai pelanggan dan dihormati

• Melalui komunikasi itulah humas menyatakan siapa dirinya, menyimak orang lain dan memahami lingkungannya.

• Komunikasi Verbal dan Non-V bisa menjadi perekat dan pemisah hubungan seseorang apabila penerapannya tidak tepat. Sebagai makluk social, hubungan antar manusia sangat penting. Dengan diri social manusia bisa merumuskan bagaimana harus tampil dan berinteraksi.

Interaksi membawa kita pada dunia bersama yakni situasi bagi kehidupan bersama manusia (Huijbers 12986:41)

Dunia bersama memiliki dua makna:

• Secara objektif: dunia yang kita tinggali terdiri dari berbagai bangsa yang bisa jadi tidak pernah bertemu

• Secara subjektif: dunia dimana kita hidup bersama, berkelompok dan saling berdiskusi memiliki kepentingan yang sama

Hidup bersama membutuhkan etika, perilaku baik dan buruk, patut atau tidak patut yang bisa membuat orang lain marah atau tersinggung.

B. ETIKA KEHIDUPAN
Nampak mudah untuk menentukan pilihan baik dan buruk. Contoh: Memberi dengan membentak tidak baik, memberi dengan iklas dan senyuman adalah baik. Pesan apa yang diterima ketika seorang berbicara dengan tangan menunjuk ke jidat?

• Memberi tau kesalahan atasan bisa jadi mempermalukan atau tersinggung, tetapi jika tidak diberitau bisa jadi atasan membuat kesalahan. Seorang atasan atau orang tua yang demokratis dan biasa menerima kritik akan menerima secara terbuka bila penyampaian pesan menggunakan etika kesantunan.

• Posisi duduk bisa jadi menjadi masalah etika manakala seorang Humas duduk ditangan kursi dengan kaki menopang ketika berbicara dengan atasan. Atau menjawab pertanyaan dengan tanpa menengok

• Tidak ada yang salah, tapi apa keberatannya jika duduk pada tempatnya dan mata menatap

• Ketika dalam acara dan berphoto bersama dengan pejabat, seorang humas ingin posisi disamping pejabat, disebelah kanannya pula sedang CEO dipinggir atau dikiri pejabat. Ini juga persoalan etika dan etiket yang harus dimiliki oleh seorang yang ingin disebut professional dan berpendidikan.

C. PRIVASI DALAM ETIKA
Penggusuran / Eksploitasi Nilai Privasi dalam praktek media tak luput dari pengamatan Humas khususnya politik.

• Urusan personal perlu mendapat perhatian khususnya public figures, koruptor.

• Tendensi praktik komunikasi privasi adalah penyembunyian (concealment)

• Privasi sebagai terminologi menurut Samuel D. Warren dan Louis D. Brandeis dalam Right to Privacy, di Havard Law Review, 1890 seperti halnya Thomas Cooley, 1999 adalah Hak untuk tidak diusik dalam kehidupan pribadi

• Sedang menurut Donald M. Gillmore, 1990:281 dikatakan Hak atas privasi diterjemahkan sebagaihak setiap orang untuk melindungi aspek-aspek pribadi kehidupan untuk dimasuki atau digunakan oleh orang lain

• Di USA setiap orang yang merasa privasinya dilanggar oleh orang lain bisa mengajukan gugatan yang dikenal dengan Privacy Tort

MENGAPA PRIVASI PENTING DALAM ETIKA
Sebagai hak otonomi individu, yang harus dijaga agar informasi pribadi yang bersifat rahasia tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan

• Melindungi dari cemoohan/cacian, ejekan masyarakat yang memiliki toleransi rendah. Contoh: Penderita / mantan Narkoba

• Merupakan mekanisme untuk mengontrol reputasi seseorang, semakin banyak orang tahu semakin berkurang kekuatan (less bargaining power)

• Sebagai perangkat berlangsungnya Interaksi Sosial. Contoh: Putusnya hubungan / relasi akibat bocornya privasi

• Merupakan benteng dari kekuasaan, ingat slogan ‘Pengetahuan adalah Kekuatan’? Contoh: Atasan punya hak tidak membuka rahasia perusahaan, Karyawan juga memiliki hak untuk mengekspresikan pendapat.

PERISTIWA PELANGGARAN PRIVASI DALAM ETIKA
INSTRUSION, tindakan mendatangi atau mengintervensi wilayah personal tanpa diundang/ijin. Contoh: Pengambilan photo/pemotretan untuk keperluan tertentu

PUBLIC DISCLOSURE OF EMBARASSING PRIVATE FACTS, penyebaran informasi atau fakta seseorang baik dilakukan dengan tulisan maupun narasi. Contoh: Menyebar photo privasi humas kompetitor

• Publicity which places some one false light in the public (Publisitas membangun pandangan yang keliru) atau exaggeration

• APPROPRIATION OF NAME OR LIKENESS, penyalah gunaan nama atau kemiripan untuk kepentingan tertentu (keuntungan sepihak). Contoh: Extrajoss vs Enerjoss

Pertanyaan
Apa yang akan dilakukan jika ketika mengendarai kendaraan melewati terminal bis dan menemui:
1. Teman lama yang sedang menunggu bis mau numpang
2. Nenek mau numpang ke RS
3. Cewek cantik juga menunggu bis

Permasalahan etika terjadi bila kita menghadapi pandangan atau penilaian baik dan buruk (Bachtiar, 1974:9)

NORMA
Dalam pergaulan hidup, Humas sebagai manusia pasti ada norma-norma yang harus ditaati. Norma itu mengajar agar bisa diterima lingkungan karena mempraktekkan baik dan buruk, patut dan tidak patut.

• Berbicara tentang aturan main bisa berbentuk adat-istiadat. Bisa juga tata krama, tata cara yang disitilahkan sebagai etiket yang dasarnya adalah konvensi social.

• Norma adalah aturan main yang harus ditaati termasuk cara berkomunikasi; sedang etika adalah teori nilai yang menjelaskan mengapa itu baik atau buruk yang dalam perilaku disebut sebagai santun.

• Tujuan etika menurut Aristoles (dalam Tubbs dan Mos, 2000:270) adalah untuk kebahagiaan individu. Hal ini bukan berarti mengabaikan kepentingan social dan menjadi individualis. Aristoteles berpandangan bahwa kepentingan individu berarti juga kepentingan masyarakat karena manusia pada dasarnya tidak bisa hidup sendiri.

• Mengapa Humas butuh seperangkat aturan tidak lain adalah untuk menjaga hidup bersama dan menjaga konflik kepentingan atau konflik ketaatan antara etika individu dan etika masyarakat. Karena dalam etika ada prinsip yang mempertemukan dua kepentingan tersebut.

D. ETIKA DALAM RELASI DAN KOMUNIKASI MANUSIA
PERSPEKTIF ETIKA DALAM RELASI
Dalam komunikasinya seorang humas harus bisa membangun relasi secara etis. Ada 4 perspektif atau model yaitu:

1. Model Pertukaran Sosial (Social exchange model) yang memandang relasi seperti transaksi niaga. Buatlah hubungan dengan mitra karena masing-masing berharap memperoleh sesuatu untuk memenuhi kebutuhan. Contoh: keberadaan organisasi disebuah perkampungan, harus bisa memperlihatkan manfaat bagi lingkungan tsb

2. Model Peran (role model), jadilah aktor yang sedang memainkan peran dalam sebuah panggung sandiwara sesuai scenario naskah yang dibuat masyarakat tempat interaksi dan relasi untuk menyenangkan pemirsanya. Jajagilah apa kehendaknya

3. Model Permainan (the games people play model) yang memandang interaksi dan relasi seperti permainan yang menyenangkan. Lakukan dialog secara simetris (setara) dan komplimenter (saling melengkapi)

4. Model Interaksi (interactional model) memandang relasi sebagai suatu sistem yang memiliki sifat-sifat struktural, integratis dan medan yang bertujuan menjaga keseimbangan (equilibirium)

BOHONG
Salah satu hal penting dalam Etika Relasi, yang harus dijaga adalah:
Berbohong , merupakan isu pokok dalam etika komunikasi yang menurut Tubbs dan Moss, 2000:273 (mengutip Sissela) mendefinisikan sebagai suatu pesan dalam bentuk pernyataan yang sengaja menipu. Penekannya adalah pada niat untuk menyesatkan pesan lewat komunikasi verbal dengan cara menambah, mengurangi, menghilangkan dengan sengaja dan membuat seolah pernyataan itu dipersepsikan benar untuk dipercaya.

Ada tiga pertanyaan dari Knapp dan Vangelisti terkait kebohongan:
1. Apakah kebohongan akan membantu melindungi. Jika untuk kebaikan sepihak maka dianggap negative dan berpotensi merusak tatanan
2. Apakah kebohongan sejalan dengan aturan tentang keadilan (fairness)
3. Apakah orang yang dibohongi percaya bahwa kebohongan itu untuk kepentingan umum?

Berbohong, tidak jujur, menyelewengkan kebenaran, hyperball dan ‘memerkosa’ hak bicara adalah tindakan yang bertentangan dengan etika komunikasi dalan relasi manusia.

• Ada istilah dosa putih yaitu berbohong untuk menghindari kerusakan atau strategi dalam perang yang terpaksa mengecoh lawan. Ini adalah suatu pengambilan keputusan yang amat sulit karena menyangkut etis.

• Ada lima alasan mengapa manusia berbohong (Lippard dalam Tubbs dan Moss, 2000:24) yaitu:
1. Melindungi atau memperoleh manfaat kepentingan diri (sumber daya material) i.e. uang, pekerjaan, rumah
2. Mengurangi atau meningkatkan afiliasi dengan orang lain i.e. agar bisa diterima komunitas (Pura-pura suka bola)
3. Melindungi diri untuk menghindari citra diri
4. Menghindari konflik
5. Melindungi orang lain

Dalam komunikasi terkadang kebohongan diperlukan, menurut Tubbs dan Moss dijelaskan sebagai berikut:

• Menghindari bahaya, misal: boss akan dicaci pendemo

• Menghasilkan manfaat: misal: claim iklan dengan formula unik DHA, ARA yang wujudnya konsumen tidak tahu tapi dipercaya

• Demi keadilan & kebenaran: misal: menenangkan yang bertikai di peradilan

• Adakalanya terjebak pada isu etis yaitu untuk menyingkap rahasia. Dalam Komunikasi Antar Pribadi, ditemukan suasana akrab antara Humas dengan Purchasing dimana terungkap rahasia tender yang bocor. Dimana letak kita harus berbuat etis? Haruskah menyimpan rapat-rapat kerahasiaan itu ataukah harus apakah meruskan ke atasan.

• Ini adalah pilihan etis dan analisa dulu konsekuensi nya. Cari strategi yang baik dan aman semuanya. Misal: merubah spec kualifikasi supplier

• Meski Kebohongan tsb bertujuan untuk melindungi, Knapp dan Vangelisti (dalam Tubbs & Moss, 2000:275) mengatakan kebohongan bisa berakibat merusak hubungan apalagi jika ada motivasi yang benar-benar disengaja

HINDARI

• Juga yang tak kalah pentingnya jangan pernah membangun Persepsi yang akan berpengaruh pada relasi komunikasi yang membawa pada prasangka benar atau tidak benar yang dampaknya pada trust dan nilai diri berupa ‘stample yang melekat’

• Stample baik dan tidak baik mempengaruhi kredibilitas. Prasangka baik berpengaruh pada reputasi dan prasangka buruk mengundang waspada

ETIKA ULTILITARIAN & ETIKA KATEGORI IMPERATIF
Untuk melihat kebohongan ada dua cara Pendekatan yaitu:

• Pendekatan Etika Ultilitarian yang melihat dari hasil, jika memberi manfaat meski untuk pribadi dan bermanfaat menjaga relasi maka masih bisa dibenarkan

• Pendekatan Etika Kategori Imperatif Kant yang melihat dari sisi cara dan tujuan. Jika kebohongan bertujuan baik dan dengan cara yang baik dan untuk mempertahankan kemitraan.

• Aristoteles (dalam Abelson dan Friquegnon, 1987:362) menyebut ada tiga jenis Kemitraan:

• Kemitraan berdasarkan manfaat, sifat tidak tetap dan mudah berubah sesuai lingkungan. Contoh: organisasi dengan komunitas yang perlu dipelihara

• Kemitraan berdasarkan kesenangan, umumnya terjadi pada saat organisasi memberi bantuan/sponsor pada kalangan tertentu yang sifatnya ad-hoc

• Kemitraan berdasarkan kebaikan, memiliki kesamaan dan empati, contoh: bentuk kerjasama yang saling menguntungkan

CARA & TUJUAN

• Ketika dihadapkan pada masalah etis yang rumit seperti diatas atau menilai tindakan komunikasi yang dilakukkannya maka salah satu pendekatan yang dilakukan diantara situasi atau titik ekstrim adalah ‘jalan tengah’ yang oleh Aristoteles disebut sebagai Golden Mean. Ingat jalan tengah juga harus tetap etis, jangan mengambil jalan tengah tapi salah. ‘Kebenaran adalah Mulia & Terpuji, Aristoteles dalam Tubbs & Moss, 2000:270.

• Dalam menilai tindakan etis atau tidak, digunakan Kategori Imperatif Kant yang melihat dari sisi niat dan tujuan, bukan hasil tindakan. Sebaliknya Etika Utilitarian melihatnya sejauh mana manfaatnya dan focus pada hasil tindakan

Nah dari matrik tersebut dalam norma social kita sebut: Kesopanan atau Kesantunan. Kita menilai orang baik jika komunikasinya santun, padahal belum tentu jika tujuannya baik. Contoh: Penipu

Kita baru bisa menilai pada saat proses komunikasi berakhir. Apakah cara baik dengan tujuan baik, apalagi jika kita melihat dari sisi Niat.

Jadi Dimensi Etis Komunikasi bukan hanya Cara Komunikasi nya saja yang membuat tindak komunikasi menjadi baik akan tetapi harus dilihat Tujuan Dan Niat Komunikasi

EVOLUSI

• Konsep evolusi kesadaran diperlukan seorang Humas untuk mendorong perilaku etis.

• Seorang humas harus memperlihatkan diri sebagai manusia dewasa yang otonom, bertanggung jawab dan makin menampilkan perfoma yang baik.

• Pada jiwa yang stabil akan tegas, tidak mudah terbawa arus, mampu berpikir logis (berakal), tidak meniru, matang dalam bertindak. Pergeseran ini memaksa untuk mengenali praktek Komunikasi yang disebut Dinamika Spiral dan Evolusi Kesadaran merupakan kajian penting dari Konsep Hierarki Kebutuhan pendapat Abraham Maslow

DINAMIKA SPIRAL

• Arah perubahan, pertumbuhan dan perkembangan tidak berjalan, pada waktu itu tidak berjalan linear. Ada yang maju, mundur, ke atas, kebawah, informasi lama, baru semua bersatu begitu rumit/semawrut, seolah arus komunikasi jika divisualisasikan sedang berjalan spiral berputar semakin naik atau kondisi menjadi lebih baik.

• Dari individu, komunitas, masyarakat digerakkan secara instiktif (menyatakan apa yang ingin dinyatakan) menjadi imitative (Ikut-ikutan), kemudian menggunakan kalbunya (perasaan) dan akhirnya menjadi holistic. Gerak dinamis tsb berlangsung secara evolusioner yang digerakan oleh daya yang dimiliki individu, komunitas, masyarakat itu sendiri dan bukan dari luar.

• Artinya Humas harus semakin cerdas menyikapi dinamika lingkungan yang tidak bergerak secara lurus tetapi multi arah, punya naluri yang instintif pada situasi yang penuh berpura-pura, meniru (imitative).

• Dalam kehidupan, Humas dalam berkomunikasi harus mampu mengubah diri dari imitative menjadi rasional.

• Dinamika Spiral memiliki kekuatan pendorong agar manusia bergerak ke lebih tinggi (dengan informasi, akal, intelektual) dan Dinamika Spiral juga sebagai perekat agar komunikan terikat dalam nilai-nilai.

KONSEP EVOLUSI KESADARAN

• Harus diketahui oleh Humas bahwa setelah neo-evolusionisme / neo-Darwinisme berakhir, kondisi berubah menuju ke evolusi non-fisik untuk Kesadaran dan Nilai, yang menganggap gerak peradabaan saat ini sudah baik padahal tidak/belum setara dengan pergerakan, perubahan, pertumbuhan dan perkembangan lingkungan yang mengalir kadang tanpa arah.

• Perkembangan individu bergerak secara universal berkembang bersama dimana manusia perlu membina relasi ko-kreatif (silaturahmi dan menghargai), vokasi ko-kreataif bukan destruktif.

• Didukung dengan kemampuan berpikir, tingkat pendidikan, informasi yang tersebar dari media massa membuat kemampuan masing-masing diri menjadi lebih baik
• Prinsip nilai yang harus menjadi bahan pertimbangan Humas adalah Evolusi Kesadaran dalam kehidupan social, budaya, ekonomi, pendidikan, komunikasi, pertahanan dan keagamaan yang sudah maju akan tetapi kadang mengabaikan lima nilai:

  • Nilai Illahiyah/teologis
  • Nilai manfaat
  • Nilai Logis
  • Nilai Etika
  • Nilai Estetika

• Untuk itu Humas harus memegang pedoman lima nilai tsb dan menapaki jenjang kesadaran untuk mengembangkan proses ko-kreatif. Proses komunikasi juga ko-kreatif merupakan wujud etisnya perilaku dalam menebar kebajikan dan membangun kemaslahatan berdasar naluri dan tidak sekedar meniru tapi berkrepribadian, berpengetahuan dan nilai yang diyakini benar memiliki tujuan etis.

• Dengan Evolusi Kesadaran dan Dinamika Spiral mengubah Humas untuk berkomunikasi natural menjadi kultural suka membantu, penuh kasih sayang (empati) bersifat terpuji.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *