Etika Media

Daftar Literatur:
• Komunikasi Massa – Billy K Sarwono dkk, Dr. Turnomo Rahardjo Msi, Drs. Bobi Guntarto MA
ETIKA:
• Etika adalah hal-hal berkaitan bagaimana meberi makna terhadap kehidupan (Jaksa & Pritchard, 1994:3)
• Etika segala sesuatu yang bisa menjawab benar – salah, jujur – bohong, perhatian atau mengabaikan, baik – buruk, tanggung jawab – pengecut
• Etika mengarah pada kebajikan (virtue), keburukan (vice)
• Etika mengarah pada aturan-aturan (moral), yang digunakan sebagai pedoman untuk melakukan evaluasi perilaku
• Etika adalah standar perilaku ; Moral adalah kemampuan memahami perbedaan benar-salah dalam segala situasi, apakah diatur oleh hukum, kebijakan formal atau tidak sama sekali (Straubhaar, LaRose, Dovenport 2012:473)

ETIKA MEDIA:
• Cara pandang teoritis etika media tidak saja perlu dipahami para profesional media (wartawan) tetapi juga masyarakat pengguna media diantaranya Humas
• Etika media (jurnalistik) adalah cabang Filsafat yang membantu wartawan menentukan benar untuk dilakukan
• Praktek media bersinggungan dengan kecermatan (accuracy), kebenaran (truthful), kejujuran (fairness) dan keleluasaan pribadi (privacy)
• Media tidak bisa sepenuhnya independen dan obyektif karena isi media dibentuk berbagai faktor yang menghasilkan realitas
• Ada kekuatan-kekuatan di dalam dan di luar yang mempengaruhi peristiwa yang disampaikan ke masyarakat
• Dampak program, pemberitaan, iklan mempengaruhi perilaku
• Masih ingat: Anak korban smackdown, anak penggemar Limbad yang mati terlilit tali, PRT yang bermake up dan ber-HP
FUNGSI MEDIA:
• Penyampai informasi dan institusi sosial yang penting bagi kehidupan masyarakat diantaranya menyediakan lapangan kerja
• Secara Normatif: adalah ruang publik (public sphere) yang memberi kontribusi menyampaikan informasi yang utuh, jujur dan dapat dipercaya.
• Sebagi saluran meng-ekspresikan pandangan, memberi akses munculnya banyak suara(many voices) dan menfasilitasi partisipasi warga dalam kehidupan sosial dan politik

Fungsi ideal tsb dapat tercapai apabila:
• Media diberi kepercayaan secara konseptual dikenal kebebasan jurnalistik/pers (journalistic freedom) yaitu bebas meng-eksplorasi, menemukan, mengungkap peristiwa, mengekpresikan kreatifitas dan opini kewartawannya
• Secara konsep, kebebasan relatif tidak berubah; namun secara praktek ditentukan situasi yang berkembang, dibatasi biaya dan dampak yang perlu dipertimbangkan. Artinya Kebebasan Jurnalistik perlu berjalan seiring dengan tanggung jawab jurnalistik

KEBEBASAN JURNALISTIK:
• Kebebasan jurnalistik dapat dipahami melalui penjelasan ‘Teori Tanggung Jawab Sosial Media’ – McQuail, 2010:171 sebagai berikut
• Media memiliki kewajiban kepada masyarakat dan kepemilikan media merupakan kepercayaan yang diberikan oleh publiik (public trust)
• Isi media harus benar, jujur, akurat, obyektif dan relevan
• Media seharusnya bebas tapi mengatur diri sendiri (self regulated)
• Media seharusnya mengikuti kode etik dan perilaku profesional yang sudah disepakati. Dalam prakteknya kebebasan sering berbenturan dengan hukum dan kode etik itu sendiri (Rahardjo, 2004: 159-167)
• Prinsip kode etik jurnalistik:
– Kebenaran dalam menyampaikan informasi
– Kejelasan dalam pembentukan opini public
– Memenuhi patokan-patokan dalam mengumpulkan dan penyampaian informasi, menghormati integritas sumber
• Dalam situasi tertentu pemerintah dapat melakukan intervensi guna melindungi kepentingan publik

Contoh Kasus:
• Maj Tempo dengan PT Toba Pulp Lestari (TPL) dulu PT Indorayon, tgl11 Juli 2004 – dituduh melakukan pemberitaan diskriminatif yaitu adu domba antara masyarakat dengan pihak perusahaan. Ada 14 tuntutan TPL tapi tidak ditemukan intimidasi, kesengajaan, nilai buruk atau prasangka yang menciderai TPL. Oleh Dewan Pers maj Tempo diminta untuk menurunkan koreksi berita berjudul: ‘Lembar Ulos Yang Sobek Royan di Bona Ni Kasogit dan Kisah Si Pongah dan Lapo Tuak’; bukan permintaan maaf. Kesalahan terletak ketidak akuratan pemasangan photo lama yang jauh berbeda dengan kondisi baru.
• Yang menarik dari Perbaikan berita yang ditulis Tempo , ada artikel berbentuk inforial berjudul Toba Pulp Bersahabat dengan Masyarakat dan Lingkungan Alam
• Ada beberapa media yang disomasi karena melakukan fitnah, menyebar berita bohong dan melanggar etika media

MAKNA ETIKA BAGI MEDIA:
• Media adalah ruang publik, ketika peristiwa diberitakan media maka akan membuka kemungkinan berita tsb berakibat pada pihak lain, baik atau buruk, positif atau negatif.
• Dalam lingkup dikotomi baik dan buruk, positif dan negatif, etika memberikan panduan moral kepada wartawan tentang bagaimana membedakan tindakan yang diperbolehkan (permissible) dan yang tidak diperbolehkan.
• Etika media tercantum di Pembukaan Deklarasi UNESCO 1978 yang menyatakan: freedom of information requires the moral obligation to seek the facts without prejudice and to spread knowledge without malicious intent artinya kebebasan informasi mempersyaratkan kewajiban moral untuk mencari fakta-fakta tanpa berprasangka dan menyebarkannya tanpa niatan untuk membenci atau menyakiti pihak lain
• Dalam UU no 40/th. 1999 tentang pers menegaskan bahwa pers nasional berkewajiban memberitakan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat serta azas tidak bersalah

KONSEP DASAR ETIKA DAN ISU-ISU ETIS:
• Eksistensi media selalu dikaitkan dengan idealisme, artinya sebagai ruang publik diharapkan masyarakat dapat menyampaikan pandangan-pandanganya, sarana khalayak memperoleh informasi yang akurat, benar, dan mencerahkan
• Dalam prakteknya media harus mampu menjalankan prinsip-prinsip jurnalisme yang bermutu (excellence journalism) yaitu setiap peristiwa yang disampaikan ke publik harus dapat dipertanggungjawabkan (accountable), dapat diuji (verifiable) dan mengandung kebenaran (truthful)
• Betulkah semua itu bisa dijalankan? Apa fakta dilapangan?
• Tidak jarang pemberitaan mengabaikan elemen akurasi, mengekspresikan kekerasan, pembunuhan karakter (bully)
• Dalam catatan Haryatmoko, 2007:24, slogan KB CNN: Slow news, no news dianggap telah meracuni media karena telah mengabaikan prosedur jurnalistik. Akhirnya Kredibilitas media dipertaruhkan?

Profesional media seperti apa untuk menjalankan profesi kewartawanan yang dapat dipertanggung jawabkan secara etis:
• Etika sebagai pemikiran sistematis tentang moralitas perlu menjadi pedoman perilaku para pelaku komunikasi (wartawan) karena lingkungan kita selalu dikuasai gagasan benar atau salah
• Etika akan membantu supaya tidak kehilangan orientasi, yaitu dapat membedakan antara apa yang hakiki dengan apa yang boleh berubah, sehingga tetap sanggup mengambil sikap yang dapat dipertanggung jawabkan (Suseno, 1987:5)
• Kredo Etika Komunikasi dari Em Griffin, 2006 dalam The National Communication Association (NCA), dilandasi oleh suatu pemikiran pertanyaan benar atau salah ketika orang berkomunikasi.
• Komunikasi etis merupakan hal yang fundamental bagi pemikiran bertanggung jawab, pengambilan keputusan, dan pengembangan hubungan dalam dan lintas konteks, budaya dan media.
• Komunikasi etis meningkatkan harga diri manusia dengan mengembangkan kebenaran, kejujuran, tanggung jawab, integritas pribadi dan rasa hormat pada diri sendiri dan orang lain

PRINSIP-PRINSIP KOMUNIKASI ETIS: Sumber Em Griffin, 2006 appendix C (A-B)
1. We advocate truthfulness, accuracy, honesty and reason as essential to the integrity of communication
2. We endorse freedom of expression, diversity of perspective and tolerance of dissent to achieve the informed and responsible decision making fundamental to a civil society
3. We strive to understand and respect other communicators before evaluating and responding to their messages
4. We promote access to communication resources and opportunities as necessary to fulfill human potential and contribute to wellbeing of families, communities and society
5. We promote communication climate of caring and mutual understanding that respect the unique needs and characteristics of individual communicators 6. We condemn communication that degrades individuals and humanity through distortion, intimidation, coercion and violence and through the expression of intolerance and hatred

7. We are committed to the courageous expression of personal convictions in pursuit of fairness and justice

8. We advocate sharing information, opinions and feeling when facing significant choices while also respecting privacy and confidentiality

9. We accept responsibility for the short-and-long term consequences of our own communication and expect the same of others

ISU-ISU ETIS: Johannesen dalam Jaksa & Pritchard 1994:12
Isu etis kewartawanan ada tiga:
1. Isu akan muncul ketika perilaku komunikasi di satu pihak memiliki akibat signifikan pada pihak lain
2. Ketika perilaku komunikasi melibatkan pilihan sadar (melakukan dengan sadar) atau sengaja tentang cara-cara (means) dan tujuan (ends)
3. Ketika perilaku komunikasi tersebut dapat dinilai berdasarkan patokan-patokan benar atau salah

MEMAHAMI ISI MEDIA
• Isi media (media content) adalah informasi verbal dan visual, dipahami mampu merefleksikan realitas secara obyektif
• Isi media tidak dipahami bebas nilai (value free) namun unsur realitas yang dikonstruksikan syarat berbagai kepentingan (value laden). Contoh: Bagaimana sdr melihat pemberitaan dua televisi tentang lumpur Lapindo?

KATEGORI ISI MEDIA Gans & Gitlin (Shoemaker & Reese, 1996:6-7)
1. Content reflects social reality with little or no distortion
― The Mirror Approach : mengasumsikan informasi kepada publik merupakan refleksi akurat tentang realitas social
― The Null Effects: isi media merefleksikan realitas tetapi hasil kompromi antara pihak-pihak yang menjual informasi pada pihak yang membelinya. Kekuatan tsb saling mempengaruhi dan menghasilkan gambaran obyektif tentang peristiwa

2. Content is influenced by media worker’s socialization and attitudes
The communicator-centered Approach menegaskan faktor psikologis melekat pada pekerja komunikasi,
profesionalisme, kepribadian, sikap politik, pelatihan, kreatifitas atau gagasan baru, perilaku

3. Content is influenced by media routine
Isi media cara kerja (budaya kerja) institusi mereka

4. Content is influenced by other social institutions and forces
Kekuatan ekonomi, budaya dan khalayak menentukan isi media
― The market Approach: profesional media mengutamakan khalayak dengan iklan, sponsor
― The Social Responsibility Approach: memberikan khalayak apa dibutuhkan (needs) dan apa yang diinginkan (wants)

5. Content is a function of ideological positions and maintains the status quo
Hegemoni (kekuasaan) baik politik dan ekonomi mempengaruhi isi media, mengeksploitasi, meniadakan oposisi

MEDIA DAN KEPENTINGAN PUBLIK, McQuail 2000:144
1. Pluralitas dalam kepemilikan media
2. Kebebasan menyampaikan informasi
3. Keragaman informasi yang tersedia untuk publik
4. Keragaman ekspresi pendapat
5. Pencapaian ekstensif
6. Kualitas informasi dan budaya untuk publik
7. Dukungan memadai bagi sistim politik yang demokratis
8. Menghormati sistem yudisial
9. Menghormati hak-hak individu

KRITERIA KEPENTINGAN PUBLIK (McQuail, 2010:165)
1. STRUKTUR: Mencakup kebebasan publikasi, pluralitas kepemilikan, pencapaian yang ekstensif, keragaman saluran dan bentuk
2. ISI: Meliputi keragaman informasi, opini dan budaya, mendukung tatanan publik dan hukum, menghormati kewajiban internasional dan HAM, menghindari menyakiti masyarakat

KEPUTUSAN ETIS MEDIA
Menurut Dominick, 2009: 390 keputusan etis media memberikan kerangka kerja untuk menganalisis yang layak dalam mengkaji pilihan dan pembenaran tindakan
1. The principle of Self-Determination
Prinsip Etika dari Judeo-Christian yang dibahas oleh Kant (Dominick, 2009:391) menegaskan ‘cintailah sesamamu, sebagaimana mencintai diri sendiri’, artinya tidak seorangpun mengijinkan dirinya diperlakukan sebagai sarana memenuhi tujuan akhir orang lain.
McQuail, 2010:227 menegaskan kepemilikan (ownership) harus secara efektif dipisahkan dari keputusan editorial

2. The categorical Imperative
Pembahasan tentang kesadaran, bila melakukan kesalahan berarti telah melakukan pelangggaran kesadaran. Yang diterapkan dalam praktik media adalah melakukan kecurangan atau ketidak jujuran dalam
pengumpulan berita. Media harus adil (cover all sides) dalam pemberitaan tidak boleh berat sebelah

3. The Principle of Golden Mean
Aristoteles menjelaskan kebajikan moral pada dua titik ekstrim:
-Pengendalian diri (Moderation): memasukkan beragam pandangan. Pandangan yang berlebihan seakan-akan berkompetisi dalam eksklusivitas
– Keseimbangan (Balanced): menyeimbangkan semua kepentingan meniadakan hal-hal rinci guna kepentingan publik, melindungi keamanan/ketentraman , tidak membuat kepanikan, memperburuk suasana

4. The Principle of Utility – (Jeremy Bentaham & JS Mill)
Utility didefinisikan sebagai manfaat besar untuk orang banyak (the greatest..good for society). Media yang
memiliki paham utilitarian akan mengutamakan hal yang baik dipromosikan dan membatasi keburukan.
Utilitarian prinsipnya:
1). memikirkan konsekwensi dari pemberitaan yang bermanfaat dan potensi kerusakan;
2) Mencari alternatif berita lain

5. The Veil of Ignorance
Keadilan itu BUTA, filsuf John Rawls mengatakan keadilan akan muncul apabila setiap orang diperlakukan tanpa perbedaan sosial. Media tidak boleh menciptakan stigma tertentu yang menjadi rujukan masyarakat.

Macam-macam Stigma:
a. Abomination of the body, stigma pada orang yang cacat tubuh atau ciri khusus. Contoh: teroris itu berjenggot, bersurban, celana kuntung
b. Blemishes of individual character, stigma merujuk pada karakter tercela. Contoh: pecandu narkoba, homoseksual, lesbian, waria
c. Tribal Stigma, berkait dengan kesukuan, termasuk ras, agama, bangsa, politik, bahasa, wilayah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *