Etika, Teknologi, dan Kredo Komunikasi

Ada tiga ciri yang dapat dirasakan dalam era teknologi komunikasi yaitu:

1. Mengatasi jarak geografis, secara teknologi mutakhir sudah membentuk jaringan global Internet menjadi system syaraf global yang mengalirkan informasi dengan cepat tanpa batas dan batasan karena sensor lalu lintas informasi hamper mustahil dilakukan

2. Kecepatan, penyampaian informasi tidak lagi menunggu peristiwa usai bahkan karya jurnalistik bisa disampaikan ketika peristiwa berlangsung

3. Volume informasi, kecepatan dan penyimpanan informasi begitu besar serta variasi informasi merangsang manusia ber kreasi menyebar informasi sehingga jumlah produksi informasi pun meningkat
Perkembangan tersebut juga merubah cara manusia berkomunikasi dan melahirkan segmentasi keahlian (spesialis) manusia dalam pengetahuan. Sehingga manusia juga memerlukan lawan bicara khusus dan ini membawa permasalahan baru yaitu sensibilitas. Perbedaan sensibilitas antara spesialis tsb ada pada cara pandang para spesialis terhadap lingkungan sekelilingnya dari perspektif bidang spesialisnya.
Di era teknologi komunikasi dan informasi mutakhir memungkinkan serba cepat dan seketika itu kini terwujud yang mengubah peta komunikasi dan perilaku manusia.

TINGKAT BENTUK TRADISIONAL PENERAPAN TEKNOLOGI

Antar Pribadi Tatap muka; surat; telepon Telepon, hubungan kelompok, surat elektronik, voicegram, medsos.
Kelompok Tatap muka Konferensi telepon, surat elektronik, website, internet, medsos.
Organisasi Tatap muka, memo, faksimili, telex, telepon, rapat Konferensi telepon, surat elektronik, website, internet, satellite, medsos.
Publik Surat kabar, majalah, buku, TV, radio, film Videotape, disk, TV Cable, satellite, system informasi digital, online.

Sifat media komunikasi tidak lagi dikategorikan menjadi media massa dan media nirmassa karena penggunaannya. Contoh internet pada penggunaan Koran online internet menjadi media massa, tapi jika internet dipakai chatting makia internet menjadi media nirmassa.

Konsekuensi lain dari perkembangnya teknologi adalah berkurangnya komunikasi antar pribada/tatap muka (Tubbs dan Moss, 2000:228)
Teknologi komunikasi melahirkan etiket atau kode baru dalam relasi antar manusia. Contoh: cara berkirim WA/SMS menggunakan singkatan yang terkadang membingungkan.

Padahal adagium komunikasi menyatakan: bila pesan dibaca dua kali untuk memahami isinya maka pemberi pesan telah berbuat ‘dosa’
Namun etiket komunikasi baru lahir menyesuaikan diri dengan teknologi sesuai namanya ‘pesan singkat’ maka juga penuh singkatan bahkan tanpa salam, jadi mirip dengan layanan telegram puluhan tahun lalu untuk menghemat biaya.

Demikian juga dengan chatting yang penuh kebohongan (hoax), mentang-mentang penerima tidak bertatap muka maka banyak informasi ‘bohong’ disebar. Apakah etika semacam ini dibenarkan?

HUMAS DAN ETIKA TEKNOLOGI

Perkembangan teknologi komunikasi saat ini tampaknya juga mulai dimanfaatkan oleh berbagai perusahaan atau organisasi dengan mendownload berbagai aplikasi seperti FB, Instagram, tweeter, telegram bahkan membuat website organisasi yang mudah ditemui melalui browsing di internet.

Teknologi komunikasi tidak bisa dipandang hanya sebagai kepanjangan indera manusia tetapi memiliki hukum-hukum tersendiri. Ada yang menyimpulkan manusia diperbudak atau hamba teknologi, bukan lagi sebagai tuan atau majikan atas teknologi

Menurut Leichty dan Esrock, perusahaan dalam memanfaatkan internet melalui format website bisa dengan menggunakan beberapa bentuk/format.

Ada tiga format website yaitu:

1. Media dengan karakter yang statis: sebagai saluran komunikasi yang bersifat satu arah (one way traffic). Perannya hanya menyampaikan informasi atau pesan baku missal: diskripsi perusahaan , profil perusahaan, ibarat brosur yang menjajikan promosi dalam versi elektronik

2. Media dengan format yang dinamis: sama bersifat satu arah (one way traffic), informasi dari perusahaan ke public, bedanya dengan karakter statis adalah ada effort untuk di-update atau diperbarui dan dibenahi isinya secara rutin

3. Media dengan gaya interaktif: selain berfungsi informatif dan pesuasi, juga membuka peluang untuk berinteraksi antara perusahaan dan publik. Hal ini cukup efektif untuk membangun relasi dan juga menampung keluhan atau menerima feedback.

Dalam membuat website, Menurut Seitel, 2004 ada tujuh hal yang perlu dipertimbangkan:

1. TUJUAN: Petugas humas harus menentukan tujuan dengan jelas maksud pembuatan website. Misal: untuk kepentingan bisnis, penjualan produk dengan sajian informasi spesifikasi produk, mendapat dukungan

2. ISI: isi perlu dirumuskan, informasi apa saja yang sekiranya yang akan disampaikan dan dibutuhkan khlayak

3. FREKUENSI PEMBARUAN: website untuk perusahaan media memerlukan pembaruan setiap saat ada berita baru. Bahkan kadang mencari berita dari website media lain untuk di tayangkan di websitenya missal: mengutip atau me-link berita dari Antara. Sedang pada perusahaan yang bukan media tergantung dari agresivitas kegiatan yang ada di perusahaan

4. RANCANGAN WEB: rancangan berupa design tampilan perlu dipikirkan untuk semenarik mungkin. Termasuk menentukan search engine dan domain website. Diperlukan juga ijin-ijin pemberian domain missal: com, co.id, org, ac dll dan biaya untuk hosting

5. INTERACTIVITAS: website era sekarang banyak memanfaatkan komunikasi dua arah, oleh sebab itu dalam design disediakan kolom Tanya Jawab dan resikonya adalah harus ada petugas yang sering membuka untuk di respon

6. LACAK RESPON: website juga bisa dipakai sebagai alat mengukur yang bermanfaat bagi perusahaan baik dari segi type khalayak, input dan feedback yang bisa dipakai untuk dasar pengambilan keputusan

7. PENAGGUNG JAWAB: menurut Seitel, perusahaan sebaiknya menugaskan orang yang full timer untuk mengelola website

Ada juga yang membuat weblog atau blog. Proses pembuatannya sederhana dibanding website, bisa dibilang sebagai buku harian online yang menyajikan informasi dengan penyortiran secara kronologis dan berkala yang di-link-an ke web, baik perusahaan atau menggunakan template yang ada di internet seperti worldpress, blogspot dengan membuat akun email terlebih dulu.

Dengan memiliki blog, praktisi humas akan lebih mudah dalam berhubungan misalnya dengan media khususnya untuk mengirim media kit, juga materi lainnya yang dikirim ke para bloggers.

Sebaliknya media juga menerima tulisan para contributor untuk dimuat di weblog mereka.

Para ilmuwan juga banyak membuat blog untuk menayangkan tulisan dan mengisi jurnal-jurnal atau hasil riset, termasuk dunia pendidikan juga sudah mulai memanfaatkan blog.

Fasilitas elektronik merupakan sarana interaksi praktisi humas dengan publiknya sehingga terbangun pemahaman yang bermuara pada tujuan organisasi serta terpenuhi kebutuhan publiknya (Tehnik Humas UT, I Gde Ngurah Putra dan Adam Sukarno, modul 8.2)

Internet menjadi media penting dan besar pengaruhnya dalam berbagai bidang bagi berbagai macam usia. Seorang praktisi humas wajib hukumnya memahami dan menggunakan media berbasis internet untuk program komunikasi organisasi nya.

TANTANGAN praktisi humas dalam menghadapi internet:

1. Pengguna internet yang terus meningkat dari berbagai kalangan harus disambut praktisi humas dengan pemahaman etika kesantunan, norma dan etiket dalam penyajian informasi

2. Masyarakat menjadi lebih cerdas dan sensitive menyikapi informasi. Praktisi humas harus mampu menyusun pesan yang efektif dan merespon isu dan penyajian informasi pasar serta sikap publik

3. Kebutuhan informasi in real time performance. Praktisi humas harus mempu menyediakan informasi dan menyusun pesan dalam berbagai peristiwa berlangsung bersamaan. Kecepatan merespon keluhan merupakan bagian dari etika responsive dan empati

4. Kebutuhan customization dengan berbagai jenis segmentasi menuntut praktisi humas bekerja efektif menyusun pesan untuk menjangkau berbagai macam khalayak yang tersebar tanpa batas tanpa mengabaikan norma dan etika yang berlaku, selalu meng-update content website/blog atau melakukan frequensi pembaruan/terkinian

5. Tumbuhnya berbagai macam situs pro & contra harus menyeleksi isi situs yang menguntungkan dan merugikan organisasi dan melakukan tindakan dengan pilihan etis. Mampu menahan diri dan tidak mudah meng-upload informasi tanpa check dan recheck

6. Interaksi, praktisi humas harus memerankan fungsi informative dan persuasi. Keluhan ditampung secara pro-aktif dan dianalisis secara sitematis menjegah masalah kehumasan (ingat RS Omni)

Dari perspekstif ilmu komunikasi yang menekankan pada tanggung jawab etis dari sejak kelahirannya para ilmuwan bergulat dengan kewajiban moral sejalan dengan peluang yang makin membesar dan nyaris tanpa batas (Griffin, 2003:34). Dimensi etis membuat tindakan komunikasi menjadi manusiawi (human touch) dan menjunjung martabat.

Teknologi komukasi seharusnya tidak memperkecil sentuhan kemanusiaan bahkan diharapkan dimensi etis tidak dipandang sepi dari kejujuran dan kesantunan.

Karena itu praktisi humas harus mengetahui Kredo Komunikasi yang dikembangkan oleh National Communication Association (NCA) dalam appendix Griffin, 2003:A-23 dalam mukadimah Etika Komunikasi:

“Komunikasi yang etis merupakan hal yang mendasar untuk pemikiran yang bertanggung jawab, pengambilan keputusan, dan pengembangan relasi dan komunitas dan di dalam dan di antara berbagai konteks, kultur, saluran, dan media”

KREDO ETIKA KOMUNIKASI

Ada 9 (Sembilan) prinsip etika komunikasi oleh Griffin, 2003:A-23 yang harus dipakai praktisi Humas disetiap menyampaikan pesan:

1. Praktekan Kebenaran, akurasi, kejujuran dan bernalar sebagai hal yang mendasar untuk integritas komunikasi

2. Mendukung kebebasan berekspresi, keragaman perspektif dan toleransi terhadap perbedaan pendapat (dissent) untuk mencapai pengambilan keputusan yang bertanggung jawab dan berdasarkan informasi yang merupakan hal fundamental untuk masyarakat madani (civil society)

3. Memahami dan menghormati komunikator lain sebelum mengevaluasi dan merespon pesan yang disampaikan

4. Mengembangkan akses pada sumber daya dan peluang komunikasi sebagai hal yang diperlukan untuk mengembangkan potensi manusia dan memberikan sumbangan pada kesejahteraan keluarga, komunikatas dan masyarakat

5. Mengembangkan iklim komunikasi yang menunjukkan kepeduliandan saling pengertian, menghormati kekhasan kebutuhan dan karakteristik individu komunikator

6. Mengutuk komunikasi yang menurunkan derajad individu dan kemanusiaan melalui distorsi, intimidasi, koersi dan kekerasan serta melalui ekspresi yang menunjukkan tidak toleran dan kebencian

7. Komitmen untuk mendorong ekspresi keyakinan pribadi dalam mengejar keadilan dan fairness

8. Menganjurkan untuk berbagi informasi, opini dan perasaan menghadapi pilihan yang penting dengan menghormati privasi dan konfidensalitas

9. Menerima tanggung jawab atas konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang dari komunikasi dari diri sendiri dan mengharapkan pihak lain pun memiliki tanggung jawab yang sama.

Praktekkan sebagian prinsip tersebut setidaknya dalam komunikasi sehari-hari:

1. Pesan hendaknya benar, akurat, jujur, dan masuk akal
2. Mendengar pesan orang lain, beri penilaian dan berikan jawaban
3. Bertanggung jawablah akan konsekuensi komunikasi jangka pendek dan jangka panjang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *