Mazhab Etika

Ditilik dari pemaknaan para pemikir mazhab etika memiliki arti upaya suatu ilmu untuk memajukan perilaku manusia ber-etika yang dirumuskan lewat teori ilmu yang berhubungan dengan hal-hal baik dan buruk, susila dan tidak susila.

1. EGOISME:
Kaidah atau peraturan yang berlaku dari mazhab ini adalah tindakan atau perbuatan yang paling baik adalah yang memberi manfaat/hasil untuk diri sendiri selama waktu diperlukan (Sutrisno Hudoyo, 1979:48)
Egoisme secara praktis nampak dalam:

A. Hedonisme, tujuan untuk memperoleh kesenangan (hedone = kesenangan), tokohnya Eudrorus dan Epicurus. Epicurus menganjurkan agar manusia mempergunakan waktu sebanyak mungkin untuk bersenang-senang.

Macam-macam Hedoisme:
1. Etis, kesenangan merupakan tindakan keharusan.
Contoh: senang jika orang lain senang
2. Psikologis, fakta kejiwaan bahwa manusia selalu mencari kesenangan
Contoh: menyalurkan hobi, mengajak masyarakat melakukan kebersihan
3. Egois: Manusia mencari kesenangan sendiri dan sebanyak mungkin
Contoh: tidak memikirkan kesenangan orang lain
4. Altruistis: Kaidah kesusilaan perbuatan menghasilkan kesenangan banyak orang
Contoh: bersopan santun ketika memberi bantuan pada masyarakat yang tertimpa bencana
5. Universalistis: Manusia seharausnya mencari kesenangan untuk banyak orang
Contoh: melakukan kegiatan tanpa memandang ras, suku, agama (bantuan tsunami, pengiriman pasukan Garuda ke Timur Tengah)
6. Estetis: Kesenangan pada keindahan
Contoh: Melibatkan diri pada kegiatan keindahan, kebersihan
7. Religius: Agama yang membangkitkan kesenangan keinsyafan
Contoh: Kegiatan yang mengajak kebaikan, lomba adzan untuk Napi/anak pembangunan tempat ibadah
8. Analistis: Menghasilkan konsekwensi kesenangan
Contoh: Mempelajari lingkungan dan dilakukan perbaikan
9. Sintetis Empiris: Pengalaman dari sebuah tindakan yang baik dan menghasilkan kesenangan
Contoh: Pengalam kegiatan yang menggembirakan dan diaplikasikan ulang ke wilayah lain
10. Sistem Apriori: Tindakan baik harus menghasilkan kesenangan
Contoh: upaya menghindari kegagalan dan menunda-nunda.

B. Eudaemonisme, Yang berarti kebahagiaan baik badaniah dan rohaniayah. Pangkal kebahagiaan pada pengalaman. Kebahagiaan tidak akan tercapai apabila hanya mengejar kesenangan saja. Aristoteles mengatakan: Manusia hidup harus dapat mengembangkan bakat-bakat dan kemampuan yang ada pada dirinya sehingga kebahagiaan menjadi tujuan utama

2. DEONTOLOGISME
Suatu pendapat bahwa baik buruk atau benar salah suatu tindakan tidak diukur berdasarkan akibat yang ditimbulkan tetapi berdasarkan sifat-sifat dari tindakan/perbuatan. Suatu tindakan tidak dinilai dari hasil tetapi dinilai dari kewajiban moral dan keharusan; baik buruk perbuatan bukan dari hasil kerja tetapi dinilai dari sejauh mana upaya mencapainya (proses).

Ada dua bentuk Deontologisme:

• Tindakan: baik buruk dirumuskan dalam dan untuk situasi tertentu dan tidak ada peraturan secara umum, disebut Etika Situasi.
Contoh: Mengolah pesan untuk kebaikan. Membagikan masker untuk korban asap dijalan umum yg padat

• Peraturan: Kaidah moral yang berlaku pada baik buruknya tindakan yang diukur atas beberapa peraturan yang berlaku umum, bersifat mutlak (taat peraturan umum).
Contoh: Membuat kegiatan harus ada ijin keramaian dari kepolisian

3. UTILITARIANISME
Baik buruknya tindakan diukur dari akibat yang ditimbulkan. Tolok ukurnya adalah hasil atau konsekuensi akibat perbuatan.
Ada dua bentuk Utilitarianisme:

• Tindakan: Menganjurkan agar segala tindakan harus mengakibatkan sedemikian rupa kelebihan kebaikan yang sebesar mungkin. Utilitarian Tindakan menganggap norma-norma moral yang universal tidak berlaku lagi. Yang penting adalah mempergunakan cara dan alat untuk mencapai tujuan, ringkasnya ‘menghalalkan segala cara’.
Contoh: Kegiatan parade menghias logo, dipakai bunga edelweis (dilindungi).

• Peraturan: bertindaklah sesuai kaidah untuk menghasilkan kelebihan akibat baik sebesar mungkin.
Contoh: Lomba membuat logo dari eceng gondok (rumput yang harus dibasmi).

4. THEONOM
Perbuatan susila berdasarkan kehendak dan sifat-sifat Allah, sehingga disebut: Theological Theory. Ada 2 macam:

1. Teori Theonom Murni, perbuatan dianggap benar apabila sesuai perintah Allah.
Contoh: Seorang humas tidak ‘cipika-cipiki ‘ dengan yang bukan mahram di acara bantuan anak yatim.

2. Teori Umum/Kodrat, manusia diberi kebebasan tapi harus ingat siapa dirinya.
Contoh: Tidak pantas membuat kegiatan ibu-ibu berupa lomba panjat pinang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *