Perbedaan Peran dan Fungsi Humas dalam Pemerintahan dan Partai Politik

oleh: Aselina Endang Trihastuti, MBA

Perkembangan peran Humas di Indonesia baik di Pemerintahan dan Partai Politik pada saat reformasi nampak tidak terlalu banyak kemajuan sejak jaman Order Baru yang lebih banyak pada fungsi Protokoler.

HUMAS PEMERINTAH, sekarang masih perlu meningkatkan frequensi dalam hal penyampaian informasi ke public karena masih amat sedikit /minim padahal hampir semua departemen memiliki Pokja Media dan mendapatkn fasilitas/kesempatan bahwa media wajib meliput kegiatan menteri dan semua departemen.

Tugas-tugas rutin Humas Pemerintah yang ada sekarang:
– Media Relations yaitu menyampaikan kegiatan Departemen dan Menteri, sosialisasi kebijakan dan program
ex. Melalui membuat Press Conference, Press Release, Newsletter dan iklan-iklan di Media
– Hubungan inter dan antar Departemen dalam hal kordinasi (lobbying)
– Mengatur jadwal tamu (protokoler)

Dari sisi Program kehumasan masih ada dibawah masing-masing direktorat dan kementerian yang kelihatan berjalan sendiri-sendiri tidak terkordinasi . Hal ini sebenarnya bisa diantisipasi apabila Lembaga Legislatif (DPR) yang menyusun anggaran dapat mengelompokkan jenis kegiatan yang sejenis dari masing-masing Departemen menjadi satu sehingga lebih efektif.

Untuk tugas voter support for the incumbent administration’s policies (Cutlip, Center dan Broom:1985) Humas Pemerintah tidak banyak melakukan, hanya Humas Presiden saja yang aktif menyampaikan kebijaksanaan/ keputusan-keputusan Presiden. Padahal praktik humas di Lembaga Pemerintahan akan memberikan kontribusi yang besar apabila dilakukan secara professional dan kredibel (Moerdecai Lee).

Sedangkan untuk mengelola tehnik kampanye dalam Pemilu (Stephen Stockwell:2000) saat ini Humas Pemerintah tidak juga banyak melakukannya, kemungkinan karena ‘the incumbent himself’ tidak ingin disorot dan dikomplain karena telah memanfaatkan humas departemen.

HUMAS PARTAI POLITIK, dari pengamatan selama masa kampanye pemilu Presiden ke-7, Humas Partai masing-masing memperlihatkan agresifitasnya. Tensi kegiatan kehumasan masing-masing capres membangkitkan emosi rakyat bahkan ada yang sampai memutuskan pertemanan yang diakibatkan oleh praktek-praktek penyampaian pesan yang tidak etis.

Kegiatan yang dilakukan oleh Humas Partai atau biasa menyebut diri Tim Sukses dari mulai membuat atribut kandidat dan Partai hingga program-program kehumasan umumnya:
1. Melakukan riset bahkan mapping wilayah dan konstituen (voting behavior research)
2. Polling
3. Media Relations termasuk pesan-pesannya
4. Program sosialisasi dan kampanye

Menurut Stephen Stockwell (2000) yang membagi kampanye politik menjadi dua yaitu:
1. Insurgent campaign, adalah kampanye politik agar kandidat memenangkan kedudukan politik
2. Incumbent campaign adalah kampanye untuk kandidat yang masih memegang kedudukan politik dan ingin mempertahankannya.

Beberapa hal mendasar dalam kegiatan kampanye politik:
1. Menciptakan positioning
2. Melakukan riset
3. Media Management
4. Upaya melakukan kontak langsung dengan konstituen (Direct Voter Contact)

Secara jelas Perbedaan Humas Pemerintah vs Humas Politik adalah sebagai berikut:

2. PROGRAM HUMAS HARUS SELALU DI-EVALUASI.
Tujuan evaluasi menurut Broom dan Dozier (1990) adalah ..”evaluation is determining the worth of something” atau untuk mengetahui efektifitas program Humas yang telah dilaksanakan dan kontribusinya, maka program Kehumasan perlu dilakukan evaluasi secara terukur seberapa besar organisasi mendapat manfaatnya.

A. Manfaat Evaluasi, menurut Gregory (2001) agar supaya dapat:
1. Memfokuskan usaha, focus pada prioritas
2. Menunjukan Efektifias, pentingnya PR value dalam mengukur sukses
3. Memastikan efisiensi, penetapan anggaran dan timeline sehingga tidak banyak ‘waste’
4. Mendukung Manajemen yang Baik, yaitu sesuai dengan tujuan program, dengan sasaran yang tajam
5. Menfasilitasis Pertanggungan jawab, kerjasama untuk mencapai hasil yang baik

Sering praktisi Humas tidak ingin melakukan evaluasi, hasil riset yang dilakukan Watson dikutip oleh Gregory (2001) disebabkan:
1. Praktisi kurang pengetahuan (tidak berminat mempelajari tehnik evaluasi)
2. Biaya mahal

Banyak praktisi hanya mengambil evaluasi secara sederhana yaitu hasil dari publikasi kegiatan (evaluasi komunikasi) saja. Ukuran space berita/liputan dengan harga iklan dianggap cukup mewakili keberhasilan sebuah kegiatan humas dari sisi anggaran yang dikeluarkan pada masih ada faktor yang dapat diukur lainnya yang bersifat in-tangible. Padahal banyak faktor bisa dievaluasi apabila mau menggunakan riset.

Kemungkinan juga faktor ‘malas’ disebabkan:
a. tidak paham apa yang harus dievaluasi
b. tidak paham apa yang dapat dicapai, umumnya dalam perencanaan tujuan kehumasan ditetapkan dengan tidak jelas/realistis
c. sulit mengidentifikasi secara tepat kontribusi yang diberikan (agregasi)
d. tehnik evaluasi seperti riset dibutuhkan waktu yang lama

TAHAPAN MELAKUKAN EVALUASI
Apa saja yang akan dievaluasi tegantung daripada kebutuhan dan tujuan organisasi. Setiap evaluasi akan berhubungan dengan Tahap Evaluasi dan Tehnik Evaluasi. Reily (1982) memberikan pedoman faktor yang perlu dievaluasi sebagai berikut:
– evaluasi public
– evaluasi kegiatan
– evaluasi anggaran
– evaluasi publisitas

Begitu juga tingkat dan tahap evaluasi dibedakan menjadi dua yaitu:
1. Evaluasi Formatif: dilakaukan evaluasi selama program berlangsung
2. Evaluasi Sumatif: dilakukan setelah program usai

Sedangkan Cutlip, Center dan Broom (1994) mengatakan ada tiga tingkat dan tahap evaluasi:
1. Preparation evaluation:
1.1 mencakup informasi ‘why to do’,
1.2 organisasi dan ketepatan strategi dan taktik, pesan
1.3 kualitas pesan dan unsur presentasi
2. Implementation Evaluation, untuk melihat bagaimana proses keseluruhan
3. Impact Evaluation, mengetahui outcome apakah sudah sesuai dengan tujuan program

B. EVALUASI MAKRO ‘MACNAMARA’
Evaluasi model Makro Macnamara merupakan evaluasi yang lebih komprehensif. Intinya melakukan evaluasi dari mulai Tahapan Kegiatan dan Metode.
Evaluasi diagambarkan dalam bentuk piramida:

Dipuncak, mengukur outcome apakah sudah sesuai dengan Tujuan:
– Adakah perubahan perilaku sesuai harapan.
ex. Metode evaluasi bisa dipakai melakukan observasi atau Riset Kuantitatif
– Seberapa banyak orang yang berubah
ex. Metode evaluasi dengan belihat Statistik penjualan, Riset Kauntitatif (penerimaan kognitif)
– Pemahaman akan pesan
ex. Metode Riset Kuantitatif

Idealnya untuk mendapatkan informasi keberhasilan adalah dilakukan Riset sebelum kegiatan dan setelah kegiatan sehingga dapat diketahui akurasi daripada evaluasi.

Di bagian tengah adalah step-step apa saja yang dilakukan sesuai informasi dan perencanaan yang didapatkan.
– Berapa banyak orang yang menerima pesan,
ex. Metode evaluasi berarti penentuan media berupa sirkulasi bagian dari strategi pelaksanaan kegiatan
– Apakah pesan benar-benar dimuat atau adakah penyimpangan pesan (kemungkinan hasil kreatifitas wartawan untuk elaborasi/balancing news)
ex. Metode evaluasi berarti Pesan Utama harus benar-benar focus, bisa didukung dengan nuansa (ambiance) dari sebuah kegiatan
– Adakah program didukung dengan produksi collateral lainnya i.e. newsletter, advertorial, special report dan lain lain

Yang paling bawah adalah input informasi dan perencanaan, adalah fakta yang dikumpulkan sebagai bahan dasar pengambilan keputusan akan bentuk kegiatan humas dan bagaimana mengeksekusinya.
– Mencari sumber berita
– Melakukan survey awal
– Mencari

Kekuatan dari model Macnamara adalah dapat mengenali rangkaian metode evaluasi berdasarkan hasil kerja humas.

sumber bacaan
Modul Humas – SKOM4103 UT – Liestianingsih Dwi Dayanti, Frida Kusumastuti, Ratih Puspo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *