How to Branding the Institutions

KENAPA BRAND

• Bila bicara BRAND kita bicara tentang Pemasaran baik untuk organisasi/institusi maupun individu (personal).

• Branding (Merek) adalah nama, simbol atau design khusus yang tujuannya untuk meng-identifikasi barang (Stanton, 1991). Oleh sebab itu para pemasar membubuhkan ‘nilai’ (value) pada merek (brand) nya dengan keunggulan-keunggulan supaya membedakan dari merek yang lain.

• Bagaimana dengan ormas dan partai. Mereka juga perlu brand, mengingat keberadaanya harus berdiri diantara berbagai macam ormas yang ada di ’pasar’. Karena sifatnya adalah institusi, maka brand nya banyak ditopang oleh berbagai macam unsur diantaranya ‘manusia’ atau anggota/warga, prestasi dan kegiatan nya.

• Bukan hanya produk, Para tokoh telah membangun nama besar dengan berbagai cara melalui Personal Branding Strategy. Baik diperlukan untuk karir pribadi (misal: artis) maupun untuk mendukung organisasi.

• Bagaimana Tommy Winata yang identik dengan Artha Graha; Bob Sadino dengan Kemchick; Ciputra dengan Ancol; Salim dengan BCA dan Indomie dll.

• Kewajiban setiap anggota organisasi memperkuat Brand Institusi agar bisa terus kokoh, kuat, credible dan langgeng (imperishable)

• Ormas-ormas kebanyakan miliki Lembaga pendukung. Nama ormas nya sendiri ibarat ‘umbrella’ yang butuh pilar-pilar pendukung agar tegaknya lembaga tersebut.

KONSEP BRAND INSTITUSI
Membangun Brand tidak lepas dari Konsep Marketing MIX (P. Kotler, 1997) :
1) Product (asset apa yang dimiliki)
2) Price (kredibilitas)
3) Place (penempatan/pasar)
4) Promotion (komunikasi)

Ditambah 4-P dari Weinreich
1) Public (segment/khalayak); 2) Partnership (kemitraan); 3) Policy (kebijakan/kebijaksanaan pendukung i.e. lingkungan sosial); 4) Purse (string): Anggaran

• Pada kondisi tertentu ormas pun perlu melakukan PARADOX MARKETING

• Paradox marketing adalah proses pemasaran yang bertentangan atau berbeda dengan konsep – konsep pemasaran yang biasa. Model ini bertujuan untuk menciptakan kondisi yang berbeda dengan kondisi pemasaran yang ada dengan tujuan agar menarik perhatian khalayak sasaran dan/atau mendapatkan suasana yang berbeda. Umumnya ada dalam praktek promosi atau komunikasi

DARI MANA MULAI
Sepuluh tips cara untuk berhasil menerapkan brand/ merek dari Dan Einzig of Mystery;

1) Start by defining your brand, melakukan netnografy yaitu mempelajari interaksi dan pengalaman yang nyata melalui komunikasi digital (Kozinets 1998)
Perlu melakukan tinjauan pada “produk-produk” LDII sebelum menentukan ruang penempatan (medsos, website, webblog, media online, media konvensional dll) secara hati-hati dengan meneliti kebutuhan emosional dan rasional serta kepedulian stakeholder

Cara melakukan tinjauan sederhana adalah dengan membuat pertanyaan-pertanyaan kunci
• Dimana posisi Brand saat ini Kemana Brand mau dibawa
• Bagaimana mencapainya
• Adakah manfaat dan kebutuhan yang kelak bisa dipenuhi dari Brand tsb

2) When building your brand, think of it as a person.
Sebagaimana seorang individu yang memiliki karakter terdiri dari keyakinan (akan keunggulannya), nilai-nilai (keakraban) dan tujuan (diingat) yang menentukan dengan siapa terhubung, kepribadian (social engagement= penggambuhan) termasuk berperilaku dalam situasi yang berbeda untuk membedakan diri.
• Durability: ketahanan terhadap lingkungan, digegeri, disaingi
• Complexity: serumit apa tantangan yang dihadapi
• Visibility: sejelas apa brand dilihat oleh stakeholder
• Risk: resiko apa yang akan dihadapi
• Familiarity: sedekat apa hubungan brand dengan stakeholder

3) Consider what is driving your business/positioning Pertimbangan apa yang dapat membantu membangun positioning brand emotif dan menginformasikan identitas serta karakter untuk mengkomunikasikan Brand.
• Keberadaan dan kredibilitas pakar dalam organisasi
• Aset yaitu anggota/warga yang berprestasi
• Program-program strategis

4) Aim to build long-term relationships with your stakeholder Don’t dress up your offering and raise expectations that result in broken promises, create trust with honest branding — be clear who you are and be true to the values that drive it every day.
• Penggambuhan, merupakan strategy untuk Aktualisasi Diri.
• Pembauraan diri dengan komunitas, asosiasi-asosiasi dan menonjolkan
• Keunggulan untuk mendapat pengakuan sehingga terbentuknya Citra
• Perilaku individu untuk membangun Personal Brand dan Institusi Brand

5) Speak to your stakeholder with a consistent tone of voices with messages:
• Completeness: detail, facts
• Consistence: ringkas, jelas, tanpa jargon
• Considerable: mempertimbangkan kebutuhan
• Concreteness: nyata bukan abstract
• Clarity: jernih mudah dipahami
• Correctness: tatabahasa yang cermat
• Courtesy: bahasa santun

6) Don’t repeat the same message in the same way over and over again. Berarti harus berkreasi membuat topik-topik, kegiatan-kegiatan yang baru.

7) Don’t try to mimic the look of chains or big ormas. Peluang yang besar harus jadi kesempatan inovasi dan jangan meniru yang sudah ada.

8) Be innovative, bold and daring – stand for something you believe in. Kata kunci adalah kreatif, berani dan aktifasi diri tiada henti.

9) Always consider your branding when communicating with stakeholder.

10) The old way of stamping your logo on everything won’t cut it.

WHAT IS YOUR POSITIONING (Karen Tiber Leland, he Brand Mapping Strategy: Design, Build, and Accelerate Your Brand Paperback – June 14, 2016)

Which one are you:
• Advocate: penganjur, penyokong
• Maker: pembuat, pembina
• Connector: penghubung, pelobi
• Motivator: perangsang
• Synthesizer: penyelaras
• Fixer: penyaring
• Implementer: pelaksana
• Visionary: cerdik yang mampu memenuhi tuntutan dari situasi yang menantang
• Interpreter: penterjemah
• Storyteller: pendongeng
• Facilitator: pelayan
• Mentor: pembimbing, pengasuh

NEXT STEPS
Buatlah BRAND ACTIVATION untuk merangsang keingin tahuan, membangun awareness dan reminder
Bisa berupa:
• Alegori : aktif melihat peluang: Kurangnya jurnal ke ilmuan. Kesempatan menjadi pendakwah (i.e. Dave di Metrotv; Mita di Youtube), pembicara seminar. Dominasi berita politik di media berarti menurunnya tayangan keilmuan dan humaniora
• Aura (esensi brand): mengikuti perkembangan situasi
• Arcadia (masyarakat ideal): menjadi pengamat, memberi usulan konstruktif, logic, deliverable untuk pertimbangan regulator
• Paradok: konsep inovasi dan kegiatan kreatif yang berbeda dan mampu menghasilkan respek

Dunia kita adalah dunia IT, manfaatkan fasilitas Global Villages, tembuslah dinding tanpa batas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *