Ilustrasi Prinsip Homophily dalam Kehidupan Sehari-hari

Banyak contoh kegagalan berkomunikasi ketika seseorang tidak memperhatikan Budaya orang lain.

A. Contoh: pada saat pemilihan calon legislatif pada Pemilihan Caleg tahun 2014 kemarin. Banyak caleg yang mendapatkan dapil dari Partai Pengusung di daerah yang sama sekali tidak dikenal sehingga mengalami hambatan dari sisi pemahaman social, budaya, pengetahuan, pendidikan, nilai dan norma.

Mereka tidak memahami Fungsi Komunikasi Antar Budaya, apalagi prinsip-prinsip yang ada, salah satunya yaitu Prinsip Homophily.

Meskipun Prinsip Homophily termasuk dalam Komunikasi Antar Budaya dalam Difusi Inovasi, namun sosialisasi caleg yang ditentukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) tahun pemilihan 2014 juga termasuk hal baru karena banyaknya ketentuan baru dalam hal pemasangan alat bantu promosi caleg seperti: pembatasan ukuran Bill Board, Baliho, Spanduk yang tidak boleh ditempatkan pada lokasi-lokasi publik atau pendidikan, kantor-kantor pemerintah bahkan tempat ibadah. Sehingga kegiatan sosialisasi caleg juga merupakan inovasi baru karena harus melakukan strategi komunikasi bentuk lain diantaranya adalah ber- interaksi dengan konstituen atau khalayaknya masing-masing.

Dalam membuat perencanaan komunikasi sosialisasi interaksi, seorang caleg harus memahami Komunikasi Antar Budaya (KAB). Hal ini perlu untuk menghindari salah pengertian karena berbeda penafsiran. Dari 4-pengelompokan pentingnya mengenali /memahami KAB, caleg mengambil 3-instrument yang berkait yaitu:

1. Kesadaran Pribadi:
Tiap wilayah dalam dapil seorang caleg misalnya untuk dapil Bekasi Kota dan Depok Kota dimana masyarakatanya memiliki latar belakang yang sangat berbeda.

Bekasi sebuah kota dengan masyarakat tercampur antara Betawi dan Jawa, penduduknya memiliki heroikme perjuangan yang kuat, kekuatan ideology agama/muslim, kelas ekonomi banyak pedagang dan pegawai
Sedangkan Depok adalah kota administrative, penduduk campuran Betawi, Sunda, kota pendidikan dengan adanya universitas dan perguruan tinggi seperti IPB, UI, Pancasila dengan beragam agama.

Caleg harus dapat menguasai bahasa yang dominan di kedua kota tersebut, pengetahuan atau tingkat pendidikan konstituen di kedua wilayah. Caleg harus memiliki kesadaran pribadi untuk menyamakan diri dengan calon pemilihnya sehingga komunikasi sosialisasi dengan prinsip homophily memudahkan bisa diterima dan terjalin hubungan emosi yang kuat atau keberpihakan.

2. Kesadaran Domestik:
Sebagaimana diilustrasikan diatas bahwa etnis khalayak di Bekasi berbeda dengan Depok. Caleg harus melakukan survey terlebih dahulu kebiasaan apa dari mereka. Meski lokasi tidak terlalu jauh dari tempat tinggal caleg di Jakarta, khalayak Bekasi yang tinggal di pinggiran seperti Pondok Gede masih banyak yang berasal dari Jawa. Karena si-caleg juga sama berasal dari Jawa maka komunikasi dengan prinsip Homophily berlangsung dengan lancar. Begitu juga ketika sosialisasi di Depok, mengingat banyak konstituen yang mengenyam pendidikan dan memiliki kepedulian masalah lingkungan yang sama, mengamati situasi politik maka diskusi juga berjalan dengan mulus

3. Komunikasi Internasional – karena tidak relevan dalam contoh kasus maka tidak dibahas disini (intinya lain lubuk lain ikan = lain Negara lain tata cara nya sehingga orang asing yang akan datang ke Negara lain harus mengenali secara keseluruhan tentang Negara yang didatanginya)

4. Fungsi KAB dalam Inovasi
Caleg berusaha mengkampanyekan penemuan-penemuan baru. Misalnya: Kurangnya caleg perempuan di legislative mengakibatkan hak-hak perempuan terabaikan. Pembahasan tentang anak yang ber-kharakter selama ini tidak tersentuh, bagaimana menanggulangi ‘kegaganasan’ internet melalui Gerakan Internet Sehat, Apa itu Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Dampak Pornografi pada anak-anak.

Semua dikomunikasikan dengan prinsip Homophily yaitu membuat kesamaan atau kesetaraan diri caleg dengan konstituennya, bahkan sebuah acara lomba sepakbola remaja di Sawangan Depok, caleg juga menggunakan pakaian oleh raga dari salah satu tim unggulan.

B. Contoh: saya ketika kepasar sering mendengar penjual menggunakan bahasa Sunda. Untuk mendapatkan bonus atau korting/discount maka saya pun mencoba berkomunikasi dengan prinsip homophily yaitu berbahasa yang sama – Sunda.

C. Contoh: Ketika saya bertemu dengan rekan-rekan seprofesi, saya akan membaur dengan mereka dan mendengarkan topic bahasan. Ketika mereka seru membicarakan kenaikan bahan bakar, maka saya juga memberikan pengetahuan bagaimana sikap masyarakat bawah dalam merespon kebijakkan tersebut. Prinsip homophily saya pergunakan agar terjadi kesamaan pengetahun dengan teman seprofesi saya

D. Contoh: Beberapa bulan lalu ada acara piknik dengan teman-teman yang memiliki perbedaan usia dengan saya. Karena mereka masuk kategori muda atau remaja (usia 19-25th) percakapan mereka pun memakai bahasa gaul. Istilah-istilah baru (pengembangan kata baru karya remaja jaman sekarang) seperti ciuus, lebay, kepo; terpaksa saya ikuti (antara tega dan tidak dalam mengucapkannya). Ini saya lakukan sebagai prinsip Homophily agar mereka bisa menerima saya, tidak sungkan dalam curhat dan komunikasi pun bisa lancar.

Sumber bacaan: Materi Pokok SKOM4101 UT – S. Djuarsa Sendjaja, dkk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *