Komunikasi Antar Pribadi (KAP)

Yang dimaksud dengan komunikasi antarpribadi (KAP)

Yaitu pertukaran tindakan penyampaian dan penerimaan pesan yang pendekatannya menurut De Vito (2001-2005) merupakan hubungan diadik, yakni komunikasi dua orang atau lebih secara psikologi sehingga tercipta perasaan dyadic primacy (keutamaan berdua), dyadic coalitions (koalisi berdua) dan dyadic consciousness (kesadaran berdua)
Pengembangannya berdasarkan Jenis:
1. Prediktif masing-masing
2. Eksplanative, masing-masing ber-interaksi baik secara social maupun umum

Contoh:
Ketika saya diperkenalkan dengan tetangga baru seorang ibu muda yang modist yang kalau naik turun mobil selalu dibukakan pintu sopirnya, prediktif saya dia adalah istri pejabat, atau wanita karir/boss perusahaan, sombong atau ‘sok berlagu’ tidak mau turun sendiri. Ketika pertama kali bertemu, tidak berjabat tangan (sesama wanita) hanya mengatupkan tangan didada.

Setelah berinteraksi, saling bertukar informasi maka terjadi proses eliminasi ketidak tahuan; rupanya sebelum pindah rumah menjadi tetangga saya, dia baru saja operasi telapak tangan akibat ‘trigger thumbs’, yaitu saraf antara jempol dan telunjuk nya melemah, tidak bisa berfungsi dengan baik. Nah dengan interaksi/explanative situasi sudah jelas, tidak prediktif dan menjadi tahu.

Persepsi, Metapersepsi dan Metametapersepsi

Proses Komunikasi Antar Pribadi yang melibatkan proses psikologis, Fisher (1987:110) mengemukakan bahwa ketika kita berkomunikasi dengan orang lain, proses intrapribadi kita memiliki tiga tataran terkait dengan sejumlah ‘diri’ yang hadir’ yang sering disebut persepsi, metapersepsi dan metametapersepsi.
1. Pandangan kita mengenai diri kita sendiri -> persepsi
2. Pandangan kita mengenai orang lain -> metapersepsi
3. Pandangan kita mengenai pandangan orang lain tentang kita -> metametapersepsi
Proses yang sama terjadi pada partner komunikasi kita, masing-masing merefleksikan proses psikologi meski tidak sama persis namun saling berusaha untuk menghasilkan persinggungan (overlap) pada tiap tataran sehingga terjadi kepahaman.

KAP – proses psikologis merupakan bagian yang tak terpisahkan

Hal ini terjadi karena dalam komunikasi antarpribadi kita mencoba menginterpretasikan makna yang menyangkut diri partisipan komunikasi yaitu diri kita, diri orang lain dan hubunganyang terjadi melalui proses piker yang melibatkan penarikan kesimpulan.
Masing-masing memposisikan letak (lokus) psikologi dengan asumsi diri pribadi terletak pada suatu tempat yang tidak dapat diamati secara langsung. Yang kita lakukan adalah mengunakan fungsi psikologi komunikasi yaitu menginterpretasikan (seleksi) tanda-tanda melalui perilaku atau tindakan yang bisa diamati dan selanjutnya disimpulkan. Lokus psikologi memiliki dimensi internal dan eksternal yang tidak selalu sama, karena orang dapat mengendalikan perilaku eksternalnya.
Proses penyimpulan ini melibatkan proses pikir atau menggunakan logika/kognisi, bahkan perasaan (afeksi) dan tindakan (konatif). Dengan demikian aspek psikologi merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam KAP.

PROSES – KAP DALAM ORGANISASI

• Dalam dunia ‘sesak media’ (media saturated), segala bentuk komunikasi telah dimudahkan tapi juga diperlukan ketelitian
• Komunikasi yang paling efektif dalam organisasi adalah Komunikasi Antar Pribadi (KAP) antara individu dan kelompok
• Komunikasi Antar Pribadi bisa berbentuk Verbal dan Non-Verbal
• KAP memiliki kelebihan pada Hubungan Relasi sebagai kecerdasan manusia yang oleh Howard Gardner dikenal Konsep Kecerdasan Jamak (Multiple Intellegence)
• Tim Borcher (1999) melihat dua pendekatan dalam KAP:
1. Pendekatan Kontekstual:
Melibatkan beberapa orang, memiliki kedekatan (proximity) secara fisik dan psikologis, tidak memperhitungan dimensi relasi
2. Pendekatan Perkembangan:
Sudah saling mengenal, menggunakan indrawi, derajad relasi boleh berbeda, penekanan pada keunikan komunikasi bukan pada tindakan, feedback seketika

TUJUAN mengenal orang lain

Ada dua tujuan pada langkah awal mengenal orang lain dalam Komunikasi Antarpribadi, yaitu:
1. Mengurangi ketidak pastian (uncertainly reduction). Dengan mengenal orang lain kita tau siapa dia dan apa yang diinginkan dari kita. Melalui proses pemaknaan yaitu proses eliminasi makna yang tidak sesuai maka akan mendapatkan pemahaman makna dari ketidak pastian.
2. Perbandingan Sosial. Menurut Leon Festinger, Fisher (1987:160), orang biasanya ingin melakukan evaluasi diri, yaitu mengetahui diri (konsep diri) dan juga menilai diri (self esteem) sehingga tahu bahwa diri kita ‘baik’.
Dengan membandingkan diri kita pada orang lain yang umumnya setara, kita dapat mengevaluasi atau mengukur kemampuan diri.

PERAN penting hubungan antarpribadi dalam membentuk kehidupan.

Kita berharap agar orang lain memiliki kesan bahwa kita konsisten dengan tujuan komunikasi kepadanya dan akan memandang kita sebagai teman, pimpinan, pasangan dan berbagai peran social lainnya.

Oleh sebab itu kita harus mampu:
1. mengarahkan persepsi
2. kewajiban kita adalah memberikan informasi kepada orang lain
3. memiliki peran social yang berbeda pada situasi yang berbeda bagi orang lain

Agar dapat melakukan peran membentuk hubungan antar pribadi, Erving Goffman (1963) mengemukakan konsep-konsep sbb:

1. Impression management (KAP sebagai drama). Bisa memainkan diri sendiri sebagai sutradara, pemain panggung dan ‘stage director’. Sehingga dalam berkomunikasi antar pribadi kita bisa berperan sebagai pengarah, pelaku dan pengatur komunikasi

2. Rethorical Sensitivity yang dikembangkan oleh Rod Hart dan Don Burk (1972), yaitu:
Menerima kompleksitas orang lain artinya setiap individu merupakan kesatuan banyak diri
Menghindari sifat kaku, keras
Menyeimbangkan kepentingan diri dengan kepentingan orang lain (win-win)
Perlu tidaknya mnyampaikan informasi dilihat dari situasi yang berbeda
Pesan disampaikan dengan berbagai cara

3. Atributional Responses: memberikan reaksi terhadap tindakan orang lain, yaitu mengkonfirmasi, menolak dan dis-konfirmasi (menjauh)

Komunikasi Verbal

Edward Hall membagi jarak dan taraf hubungan orang yang berkomunikasi dengan zona yang oleh Pease (1987:15) dan Jandt (1998:105) membagi menjadi 4-zona yaitu:
i. Zona intima tau subzone, antara 15-45 cm yang dijaga sebagai milik pribadi
ii. Zona pribadi, antra 46-122cm yang digunakan untuk kegiatan social atau public, batas zona ini sejauh kita berjabat tangan
iii. Zona Sosial, antara 122-360cm digunakan pada orang yang belum dikenal baik/asing
iv. Zona Umum, antara 360cm lebih yang dipakai untuk berbicara dengan orang banyak dengan jarak yang nyaman

Komunikasi Non-Verbal

Menurut Fiske, 2004:281, komunikasi non verbal adalah semua ekspresi selain kata-kata terucap atau tertulis (spoken and written word) , termasuk gerak tubuh, karakteristik penampilan, karakteristik suara, dan
penggunaan ruang dan jarak bahkan menurut Jandt (1998:99) juga mengacu pada unsur-unsur lingkungan yang dipergunakan manusia dalam berkomunikasi seperti warna dinding tempat komunikasi berlangsung.

Menurut Albert Mehrabian (dalam Pease, 1987:1) dampak pesan itu 7% daria verbal; 38% dari suara (nada rendah dan tinggi) sedang 55% dari pesan nonverbal. Juga penyampaiannya melalui bahasa tubuh seperti ekspresi wajah, gerak tubuh, intonasi suara.

7.1. Fungsi Komunikasi Non-Verbal
Jandt (1998:100-101) menyebutkan beberapa fungsi:
a. Menggantikan pesan lisan, bila situasi tidak memungkinkan menyampaikan secara lisan maka dilakukan dengan memberi kode tertentu
b. Menyampaikan pesan yang tidak enak disampaikan secara lisan. Misalnya menyampaikan rasa cinta dengan malu diungkapkan dengan sinar mata mesra
c. Membentuk kesan kearah komunikasi . Misal: berpakaian rapi saat wawancara kerja
d. Mempejelas relasi, perilaku sebagai bos ketika menyuruh sopir
e. Mengatur interaksi, dengan kode menghentikan pembicara untuk ikut andil bicara
f. Memperkuat dan memodifikasi pesan-pesan verbal, dengan isyarat atau penyandian sambil bicara. Misalnya: berbicara sambil menangis sedih

7.2. Jenis-Jenis Komunikasi Non-Verbal:
Jandt (1998:100-101) mencatat ada Sembilan jenis komunikai nonverbal yaitu:
1. Proxemics (Kedekatan): Istilah ini berasal dari Edward Hall menunjukkan adanya ruang (jarak) yang
digunakan untuk berkomunikasi. Semakin dekat menunjukkan keakraban
2. Kinesics (Kineskik), gerak-gerik atau sikap tubuh, gerak tubuh (bodu movement), ekspresi wajah dan kontak mata. Misal: acungan jempol, menggeleng dan mengangguk
3. Chronemics (kronemik), berkait dengan waktu . Orang yang tepat waktu adalah yang memandang waktu berjalan linear, sedang orang yang suka ‘jam karet’ adalah orang yang kronemik siklikal
4. Paralanguangage ( para bahasa), meliputi karakter vocal, keras pelan, tinggi rendag dan segregi vocal seperti emmhhh, huuuh.
5. Kebisuan atau diam,bisa dimaknai apatis, setuju, tidak setuju, bingung, malu, tertekan, takut.
6. Haptics atau sentuhan, elusan menandakan keakraban dan empati, kasih sayang, persuasi, motivasi. Menurut Baskin dan Aronoff (1980:110), siapa yang disentuh, apanyayang disentuh dan dalam keadaan apa disentuh merupakan varaiable penting dalam komunikasi
7. Olfatics, terkait indra penciuman . Bau mengomunikasikan sesuatu, seperti bau badan menandakan belum mandi, bau wangi parfum Arab mungkin baru pulang umroh/haji
8. Oculesics, pesan melalui mata seperti melotot, melirik, berkedip-kedip
9. Tampilan fisik/busana, memakai baju olah raga, piyama, kebaya, warna hitam sebagai tanda duka dan lain lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *