Kekuatan Opini Publik secara Sosiologis

Beberapa peristiwa pelecehan seksual dan perkosaan sering menjadi trending topics di media dan mengiba hati masyarakat. Salah satu yang mencemoh adalah pelecehan yang dilakukan justru dalam lingkungan sekolah.

Masih segar diingatan kita tentang Peristiwa Pelecehan Sexual di Sekolah Jakarta Internasional School (JIS) Jakarta Selatan? Suatu Lembaga Pendidikan Terhormat untuk anak-anak orang berduit mengukir pengalaman awal menimba ilmu dalam hidupnya.

Perlakuan yang dilakukan beberapa ’tukang bersih kamar mandi/sapu’(Office Boys=OB) pada seorang murid yang dilaporkan orang tuanya ke polisi dan mengundang simpati orang tua lainnya sehingga diliput media dan menembus ’dinding’ DPR (Rumah Wakil Rakyat) sehingga Mendiknas pun harus dihujat masyarakat dan Presiden SBY memberikan perintah pengusutan lebih lanjut.

Kini persidangan berlangsung dengan terdakwa OB juga melibatkan Kepala Sekolah JIS dengan dugaan hasil laporan beberapa korban peristiwa pelecehan tidak dilakukan sekali namun berulang kali, pada banyak korban dan diketahui oleh pihak sekolah.

Para petinggi dan lembaga negara pasti tidak akan tahu atau bahkan diam jika tidak sekelompok orang tua yang memiliki kepedulian/pandangan/kepentingan yang sama (Emory Bogardus) melakukan protes ke sekolah dan media pun bertubi-tubi meliput dengan program khusus untuk memberi pressure/efek komunikasi (Harold Laswell & Schramm) pada kepolisian dan menjadi isu nasional sehingga timbul opini publik berupa dukungan dari ’the whole country’ pada jaminan keamanan sosial bagi anak di sekolah.

Lingkungan sekolah selain wadah untuk proses belajar dan mengajar juga merupakan Lingkungan Sosial Primer dimana terdapat hubungan yang erat antara anggota satu dengan lainnnya (orang tua murid dan guru) saling kenal dengan baik. Mereka disini memperoleh kerangka yang memungkinkan untuk mengembangkan sifat sosial, mengindahkan norma, melepas kepentingan individu, belajar bekerjasama untuk kepentingan anak –anak mereka.

Opini Publik muncul pada kasus JIS karena adanya Aspek Penilaian Sosial (Clyde L. King) dan menjadi social judgement yang memiliki kekuatan sebagai berikut:
1. Opini Publik adalah suatu Hukum Sosial yang menimpa seseorang dan menimbulkan rasa malu, rendah diri
2. Opini Publik sebagai pendukung kelangsungan berlakunya sopan santun dan susila. Jelas pelecehan sexual adalah tindakan a-susila
3. Opini Publik dapat mempertahankan eksistensi suatu lembaga. Setelah kasus terungkap maka JIS diperintahkan ditutup
4. Opini Publik dapat mempertahankan atau menghancurkan kebudayaan. Publik sepakat bahwa pelecehan sexual pada murid sekolah adalah merusak budaya Indonesia
5. Opini Publik dapat melestarikan norma sosial. Semangat masyarakat adalah untuk menegakkan hukum yang ada di Indonesia baik Hukum Agama maupun Hukum Nasional

Kaitan lain dengan Aspek Psikologis adalah erat dengan traumataic yang berdampak pada mental, rendah diri pada korban dan mempengaruhi sikap atau perilaku dimana Calhoven dkk, 1990:315 mengurainya terdiri dari tiga komponen:
1. Kognitif (keyakinan): apa yang dilihat dan diketahui korban membentuk gagasan untuk bertindak
2. Komponen emosi (perasaan): apa yang dirasakan korban/orang tua bisa memicu perasaan marah dan dendam
3. Komponen perilaku (tindakan): pengalaman pahit bisa menjadikan rendah diri, sulit bergaul, berpikir negatif

Aspek Politis, sangat erat dengan keterwakilan partai-partai di Legislatif dan peninjauan kebijakan serta UU. Bisa jadi Mendiknas dicaci oleh partai oposan, bisa jadi UU Pendidikan akan ditinjau lagi dll

Opini Publik yang terbentuk disini karena adanya isu/kasus yang menjadikan sentimen massa dan mereka setuju terhadap fakta (Goerge Carslake Thompson dalam Sastropoetro 1987) yang menyangkut 5 -faktor kepentingan khalayak (AV Dicey dalam Sumarno, 47):
1. Harga diri suatu bangsa, jelas JIS berada diwilayah Indonesia, status sekolah asing
2. Keamanan, tidak adanya perlindungan sekolah pada murid
3. Interest kelompok, dari orang tua murid hingga KPAI dan publik yang menuntut ke polisi dan lembaga negara
4. Norma, pelanggaran pada aturan masyarakat dan juga hukum agama
5. Ideologi, pelanggaran pada tata nilai budaya Indonesia

Jadi kekuatan Opini Publik secara Sosial dari kasus JIS ini karena tindak ’kriminal’ dilakukan di sekolah/lembaga pendidikan yang bukan menjadi budaya bangsa Indonesia , dikutuk dari segi agama dan bahkan cenderung pada HAM dimana hak warga negara yang seharusnya dilindungi malah terancam keamanannya.

Maka lengkap sudah kasus ini jika ditinjau dari aspek sosial dan hukum sehingga wajar jika publik ber’teriak’ menyampaikan opininya untuk pengamanan generasi kedepan.

Sumber bacaan: Buku Materi Pokok Opini Publik – SKOM4321 – Betty RFS Soemirat; Eddy Yehuda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *